SERANG, BANPOS – Di era modern, sistem pengolahan air bersih atau water treatment plant adalah infrastruktur vital bagi kota-kota metropolitan.
Namun, siapa sangka bahwa ratusan tahun sebelum teknologi modern mendominasi, Kesultanan Banten telah menerapkan sistem manajemen air yang sangat canggih dan terstruktur.
Jauh dari kesan kuno, jejak rekayasa hidrologi ini masih dapat ditemukan di kawasan Banten Lama, tepatnya di situs Waduk Tasikardi.
Bagi generasi milenial dan Gen Z yang menyukai sejarah teknik sipil atau arsitektur, Waduk Tasikardi bukan sekadar danau buatan biasa.
Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf yang berkuasa antara tahun 1570 hingga 1580 Masehi, situs ini adalah bukti visi futuristik leluhur Banten.
Sang Sultan tidak hanya membangun danau untuk keindahan, melainkan menjadikannya pusat pasokan air bersih yang vital bagi Keraton Surosowan.
Keunikan utama dari sistem ini terletak pada mekanismenya yang tidak langsung mengalirkan air mentah ke keraton.
Terdapat protokol penyaringan berlapis yang dikenal dengan istilah “Pengindelan”.
Ada tiga stasiun penyaringan utama: Pengindelan Abang, Pengindelan Putih, dan Pengindelan Emas.
Ketiganya bekerja layaknya instalasi pengolahan air modern yang memisahkan polutan secara bertahap untuk menjamin kualitas air yang dikonsumsi para bangsawan dan penghuni istana.
Mekanisme Filtrasi Bertingkat yang Cerdas
Sistem yang diterapkan di Tasikardi menunjukkan pemahaman mendalam tentang sedimentasi dan filtrasi.
Air dari danau yang mungkin keruh dan bercampur lumpur tidak serta merta dialirkan. Tahap pertama dimulai di Pengindelan Abang.
Sesuai namanya, bangunan ini memiliki karakter fisik yang khas.
Pengindelan Abang dibangun menggunakan struktur batu bata yang kokoh dengan dimensi panjang sekitar 18 meter dan lebar 6 meter.
Secara arsitektural, bangunan ini memiliki rongga melengkung dengan atap yang ditopang oleh dua pilar batu besar.
Fungsi utamanya adalah sebagai primary filter atau penyaring awal.
Di sinilah kotoran-kotoran kasar, sampah organik, dan lumpur berat diendapkan agar tidak terbawa ke saluran berikutnya.
Setelah melalui proses pengendapan awal, air bergerak menuju stasiun kedua, yakni Pengindelan Putih.
Meskipun secara fisik bangunan ini memiliki kemiripan dengan Pengindelan Abang, terdapat perbedaan desain yang signifikan pada bagian atapnya yang berbentuk setengah lingkaran serta adanya lubang khusus di bagian belakang.
Di fase ini, air mengalami proses penjernihan lanjutan (secondary treatment), memastikan partikel-partikel halus yang lolos dari tahap pertama dapat tereliminasi.
Puncak dari teknologi ini berada di tahap ketiga, yaitu Pengindelan Emas. Ini adalah tahap finishing di mana air yang keluar dari sini diklaim memiliki kualitas tertinggi, sangat jernih, dan siap digunakan untuk kebutuhan domestik Keraton Surosowan.
Namun, realitas hari ini cukup memprihatinkan. Pengindelan Emas kini hanya menyisakan puing-puing.
Kerusakan yang terjadi selama berabad-abad membuat bentuk aslinya sulit diidentifikasi, meninggalkan misteri tentang seberapa megah bangunan penyaring terakhir ini di masa jayanya.
Akulturasi Teknologi Global
Kecanggihan sistem air di Tasikardi bukanlah kebetulan semata. Hal ini merupakan hasil dari keterbukaan Banten terhadap ilmu pengetahuan dari berbagai bangsa.
Dalam buku Penelitian Arkeologi Situs Tasikardi Banten Lama, peneliti Halwany Michrob mengungkapkan fakta menarik bahwa infrastruktur ini adalah buah dari perpaduan teknologi lokal dengan pengaruh asing, khususnya Tiongkok dan Belanda.
Jejak pengaruh ini terlihat jelas dari gaya arsitektur bangunan pengindelan serta sistem irigasi pipa terakota dan saluran air yang menghubungkan waduk dengan pusat pemerintahan.
Halwany Michrob menegaskan pentingnya situs ini dalam sejarah sanitasi di Nusantara.
“Ketiga pengindelan tersebut menunjukkan bahwa sistem pengolahan air pada masa Kesultanan Banten sudah memiliki konsep sanitasi yang maju dan terencana,” tulis Halwany dalam penelitiannya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pada abad ke-16, Banten telah memikirkan kesehatan publik dan kualitas hidup melalui manajemen air yang higienis, sebuah konsep yang mungkin belum terpikirkan oleh banyak kerajaan lain di masa itu.
Selain untuk keraton, air dari Tasikardi juga dialirkan untuk mengairi lahan pertanian warga, membuktikan bahwa teknologi ini memiliki dampak ekonomi dan sosial yang inklusif.
Situs Penting yang Terancam Hilang
Sayangnya, narasi kejayaan teknologi masa lalu ini berbanding terbalik dengan kondisi situs saat ini.
Ketiga pengindelan yang seharusnya menjadi monumen kecerdasan bangsa, kini seolah luput dari radar perhatian publik dan wisatawan.
Kondisi di lapangan menunjukkan banyak bagian bangunan yang mengalami kerusakan parah, tertutup semak belukar liar, dan minim papan informasi yang memadai.
Tanpa narasi dan perawatan yang tepat, pengunjung yang datang mungkin hanya melihat tumpukan bata tua tanpa menyadari bahwa mereka sedang berdiri di depan salah satu instalasi pemurnian air tertua di Asia Tenggara.
Potensi besar Tasikardi sebagai objek wisata edukasi teknologi dan sejarah masih belum tergarap maksimal.
Pemerintah daerah dan dinas terkait memiliki pekerjaan rumah besar untuk menyelamatkan aset ini.
Pelestarian fisik dan revitalisasi narasi sejarah sangat mendesak dilakukan agar Pengindelan Abang, Putih, dan Emas tidak benar-benar lenyap ditelan zaman.
Banten Lama menyimpan banyak “harta karun” ilmu pengetahuan, dan sistem air Tasikardi adalah bukti nyata bahwa nenek moyang kita adalah inovator yang ulung. (*)





Discussion about this post