TANGSEL, BANPOS – Bencana banjir kembali merendam permukiman warga RT 006 RW 004 Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pada Selasa 18/11/2025. Warga menuntut pertanggungjawaban pengelola Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipeucang.
Banjir terjadi setelah hujan deras sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, aliran kali yang berada sekitar rumah warga diduga tersumbat longsoran sampah dari TPA Cipeucang yang kapasitasnya disebut sudah overload. Akibatnya, air meluap dan masuk ke rumah-rumah warga.
Warga menilai aliran kali saat ini semakin menyempit. Jika bagian awal masih selebar dua meter, di bagian hilir hanya tersisa sekitar sejengkal akibat timbunan sampah yang merosot.
Dari hasil pantauan di lokasi Rabu (19/11) pagi, aliran air menuju hilir memang semakin menyempit. Kondisi itu diperparah aliran yang berbelok-belok akibat adanya penyempitan. Harusnya, aliran kali mulai dari rumah warga hingga menuju TPA Cipeucang memiliki lebar 2 meter dan lurus.
Nampak alat berat tengah menarik sampah dari kali yang dimaksud. Penarikan tidak begitu berdampak lantaran sampah sudah bercampur dengan air. Awak media yang meliput dilarang mendekat lokasi hingga gorong-gorong dibawah jembatan.
Warga pun memastikan, gorong-gorong yang memiliki lebar sekitar dua meter itulah yang seharusnya ukuran asli kali disekitar tempat tinggal mereka.
”Kali ini lebar sekitar 2 meter, semakin kesana ada penyempitan hanya sejengkal, karena sampah merosot,” ujar Kristanto (43) warga yang kebanjiran akibat kali tertimbun sampah Cipeucang, saat ditemui di rumahnya.
Kristanto mengungkapkan bahwa ini adalah banjir ketiga yang mereka alami dalam satu bulan terakhir. Ia pun menekankan bahwa tata kelola sampah yang sembarangan menyebabkan warga harus menanggung beban ini.
”Kita ingin pengelola bertanggungjawab, jangan diam-diam saja. Penyebab utama banjir itu pengelolaan sampah karena kapasitas overload, menyebabkan kali tertutup sampah yang longsor,” ucapnya.
”Banjir ini sudah yang ketiga kalinya, banjir sebelumnya masih berdekatan dua mingguan akibat dari ini pengelolaan sampah yang tidak kooperatif dalam penataan dan komunikasi,” lanjut pria yang memiliki usaha pembuatan tempe itu.
Menurut Kristanto, sekitar lima rumah terdampak cukup parah akibat banjir yang bercampur sampah. Sejumlah barang seperti pakaian, elektronik, kendaraan, hingga bahan pangan rusak terendam air. Ia juga menyinggung lambannya respons instansi terkait dalam merespon keluhan warga.
”Ini dinas lingkungan mati, bukan dinas lingkungan hidup. Disini warga ada komplenan kalau belum ada kejadian tidak bakal ditangani cepat,” ucap Kristanto dengan nada geram.
Menurutnya, tempat tinggal Kristanto dan keluarga yang paling parah terendam hingga ketinggian air nyaris sepinggang orang dewasa. Air yang datang secara mendadak membuat ia tak sempat menyelamatkan barang-barang berharga.
”Pokoknya pengennya dari pengelola ada itikad baik, lingkungan harus ada pertanggungjawabannya. Saya tinggal di sini sudah 10 tahun. Ini baru banjir dalam waktu sebulan tiga kali,” pungkasnya. (*)

Discussion about this post