LEBAK, BANPOS – Seorang petugas office boy (OB) berstatus honorer berinisial E memilih mengundurkan diri. Ia mengaku mengalami tindak kekerasan dari oknum pimpinan Inspektorat Kabupaten Lebak berinisial R.
Berdasarkan pengakuannya, insiden itu terjadi pada Senin (17/11/2025) kemarin. Saat itu, E tengah bersiap melakukan tugas bersih-bersih di aula. Tanpa sebab yang jelas, R disebut-sebut melontarkan kata-kata kasar hingga menendang bagian perut E. Tidak terima dengan tindakan tersebut, E yang telah bekerja sejak 2022 memutuskan berhenti.
“Sekitar jam 07.00 WIB pagi mau bersih-bersih luar, nyemprot rumput sekalian bersihkan aula. Karena aula belum dibersihkan bekas tenaga R4 yang lagi masa senggah sampai magrib,” kata E melalui sambungan telepon, Selasa (18/11/2025).
Menurut E, aula dalam kondisi kotor dan berantakan. Saat R datang dan melihat keadaan tersebut, ia langsung marah dan memanggil E. “Pak Inspektur lihat aula acak-acakan, marah. Manggil saya. Dari ruang resepsionis dia langsung bilang ‘goblok kamu’, ‘polongo kamu’, ‘totol kamu’,” ujar E menirukan ucapan R.
Tidak berhenti pada makian, kata E, R kembali mendatanginya dan melakukan tindakan fisik.
“Pak Inspektur balik lagi. Tiba-tiba nendang tong sampah dua kali, lalu ketiga kalinya nendang saya di perut bawah pusar. Tidak sampai terguling, tapi saya terdorong,” ungkapnya.
E mengakui tidak ada saksi mata saat kejadian. Namun ia merasa sangat tidak nyaman dengan perlakuan tersebut hingga memutuskan berhenti bekerja.
“Saya tanya kenapa diperlakukan seperti itu. Dia cuma bilang cepat beresin sambil mendorong-dorong ke aula. Setelah itu saya disidang di aula oleh R, Sekretaris, dan Kasubag. Di situ dia bilang saya tidak pantas rapi-rapi, tidak pantas pakai seragam karena saya OB,” tuturnya. “Di hari itu juga saya mengundurkan diri. Dan saya tidak melaporkan kejadian ini ke polisi,” sambungnya.
Di sisi lain, Sekretaris Inspektorat Lebak, Vidia Indera, membantah adanya kekerasan fisik terhadap E. “Hoaks itu. Yang benar hanya ditegur dengan nada keras saat briefing di aula. Wajar pimpinan marah dengan nada keras, tapi kalau sampai fisik, ditendang, itu tidak ada. Saya ikut briefing. Bagi saya, teguran wajar karena pimpinan tidak puas dengan kinerja kita,” katanya.
Vidia menambahkan, untuk menghindari kesalahpahaman, Inspektorat telah berkomunikasi dengan keluarga E. “Sudah dikomunikasikan, dimusyawarahkan dengan yang bersangkutan dan orang tuanya. Sekarang sudah tidak ada salah paham lagi,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa kinerja E kerap tidak memuaskan pimpinan, meski kesempatan telah beberapa kali diberikan hingga kejadian beberapa hari terakhir. (*)







Discussion about this post