SERANG, BANPOS – Keberadaan anak jalanan dan pengemis kembali menjadi sorotan di Kota Serang. Jumlahnya cukup banyak di beberapa titik pusat keramaian dan memicu desakan agar Pemkot Serang meninjau ulang program sosial yang berjalan.
Berdasarkan pantauan BANPOS pada Senin (17/11/2025), terdapat 33 pengamen dan pengemis di sembilan titik lampu merah di Kota Serang. Sebanyak 18 di antaranya masih anak-anak.
Selanjutnya, kondisi maraknya anak jalanan dan pengemis ini mendorong kritik dari berbagai pihak. Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Serang, Asep Najmutsakib, meminta pemerintah tidak hanya menertibkan mereka, tetapi juga menyentuh akar persoalan yang lebih kompleks.
Asep menilai anak jalanan menghadapi kerentanan sosial dan mental yang tidak sederhana. Ia menyatakan bahwa masalah mereka jauh melampaui sekadar kekurangan uang.
“Persoalan yang dialami anak jalanan lebih dari sekadar tak memiliki uang kemudian mengamen atau meminta-minta,” ujar Asep.
Selain itu, Asep menjelaskan bahwa anak-anak tersebut rentan terhadap berbagai risiko serius. Ia menyebut eksploitasi fisik, kekerasan seksual, gangguan kesehatan, termasuk penyalahgunaan narkoba, serta terputusnya pendidikan sebagai ancaman nyata bagi masa depan mereka.
Asep menegaskan bahwa keberadaan PMKS di lampu merah Serang tidak muncul karena kemauan pribadi. Asep menilai persoalan itu dipicu faktor struktural seperti kemiskinan, keretakan keluarga, dan minimnya perhatian pemerintah maupun masyarakat terhadap perlindungan anak.
“Menjadi anak jalanan bukan pilihan yang diinginkan apalagi menyenangkan bagi setiap anak,” ungkap Asep.
Dengan demikian, ISNU meminta Pemkot Serang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program sektor riil, terutama bidang ekonomi dan pendidikan. Ia juga menilai pembangunan fisik tidak boleh mengabaikan pembenahan pola pikir masyarakat. (*)






Discussion about this post