TANGERANG, BANPOS – Penyataan Cucun Ahmad Syamsurijal, Wakil Ketua DPR RI, mendapat respons negatif dari berbagai kalangan, terutama para ahli gizi.
Pasalnya, pernyataan tersebut dinilai telah melecehkan ahli gizi, yang telah menempuh pendidikan panjang.
Untuk diketahui, Cucun Ahmad Syamsurijal viral setelah pernyataannya bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memerlukan ahli gizi, cukup Fresh Graduate SMA yang dilatih selama tiga bulan.
Kepada BANPOS, seorang ahli gizi asal Tangerang, Dila, mengatakan bahwa pernyataan Cucun bukan hanya membuat sakit hati ahli gizi yang bekerja pada program MBG, melainkan ahli gizi seluruhnya.
“Walaupun saya bukan ahli gizi di MBG, tapi tetap sakit sih mendengar pernyataan seperti itu,” ujarnya kepada BANPOS, Senin (17/11).
Menurutnya, ahli gizi bukanlah profesi yang mudah didapatkan. Apalagi, persoalan gizi merupakan hal yang kini tengah digencarkan guna menekan angka stunting.
“Ahli gizi itu profesi yang pendidikannya tidak singkat, gak bisa disetarakan dengan orang yang dapat sertifikasi tiga bulan,” tegasnya.
“Walaupun di MBG yang diurusin bukan orang sakit, beda kayak di Rumah Sakit, tapi tetap dasar-dasar ilmu harus dikuasai. Mereka yakin dengan sertifikasi tiga bulan bisa mencakup itu semua?” lanjutnya.
Dila menegaskan bahwa ahli gizi bukan hanya sekadar persoalanan makanan semata, sebagaimana yang dipikirkan oleh Cucun Ahmad Syamsurijal.
“Jadi ahli gizi itu bukan semata-mata ngurusin makanan tok, walaupun yang dipandang mereka keliatannya begitu,” ungkapnya.
Ia pun mempersoalkan pernyataan Cucun yang menyebut ahli gizi arogan.
Menurutnya, tak ada sedikitpun pernyataan dari ahli gizi pada video tersebut, yang menyombongkan profesi dan arogan.
“Pernyataan yang sangat tidak bijak. Apalagi sampai menyebut ‘sombong, as a ahli gizi’, lalu menyebut ‘arogan’. Ini maksudnya gimana?” ucapnya.
Ia mengatakan, jika memang Cucun Ahmad Syamsurijal benar-benar berniat menyingkirkan ahli gizi dari program MBG, maka silakan jangan gunakan diksi Ahli Gizi pada program MBG.
Meski demikian, hal tersebut justru menambah masalah baru pada program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
“Lulusan ahli gizi sangat banyak, harusnya mereka bisa nilai kenapa akhir-akhir ini ahli gizi banyak yang gak minat ke MBG. Itu yang dicari solusinya, bukan malah mencari masalah baru,” tegasnya.
Di akhir, ia menegaskan bahwa persoalan MBG yang terjadi akhir-akhir ini, muaranya pada satu persoalan: ketiadaan ahli gizi pada jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional.
“Begitulah kalau pimpinan BGN pun gak ada yang background gizi secara langsung. Padahal banyak guru besar yang berasal dari bidang gizi,” tandasnya. (*)









Discussion about this post