SERANG, BANPOS – Nama Ki Wasyid bin Muhammad Abbas sedang banyak dibahas di Banten. Dia adalah pejuang Banten yang diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, namun mentok di pemerintah pusat. Ternyata ada kisah lucu dalam perjuangannya melawan penjajah.
Adalah seorang sejarawan bernama Amsanah, yang mengisahkan peristiwa unik dalam perjalanan perjuangan tokoh yang dikenal dengan nama Ki Wasyid itu. Menurut Amsanah, kejadiannya berkaitan dengan nasi uduk!
Amsanah mengisahkan, pada suatu hari di tahun 1888, suasana di Banten sedang panas. Bukan karena cuaca, tapi karena rakyat sudah kesal kepada penjajah Belanda. Pajak naik, kerja rodi makin berat, dan harga cabe pun ikut-ikutan pedas!
“Di tengah suasana itu, muncul seorang tokoh keren bernama Ki Wasyid. Beliau ini guru ngaji yang terkenal sabar, tapi kalau dengar kata ‘penjajahan’, langsung semangatnya meledak kayak kompor minyak tanah!” kata Amsanah mengisahkan awal perjuangan Ki Wasyid.
Amsanah lalu melanjutkan, pada suatu sore, Ki Wasyid mengumpulkan para santri dan rakyat. Sambil berdiri gagah Ki Wasyid mengobarkan semangat perlawanan kepada penjajah.
“Saudara-saudaraku, besok malam kita lawan Belanda! Disambut teriakan Allahu Akbar dari para pengikutnya,” kata Amsanah yang juga Guru di SD Negeri 13 Serang itu dalam merekonstruksi peristiwa itu.
Namun, setelah itu salah seorang pengikutnya merngusulkan agar serangan terhadap penjajah dilakukan selepas shalat Isya. Alasannya unik, agar bisa terlebih dahulu menyantap nasi uduk.
“Eh, tapi abis salat Isya aja ya, biar sempet makan nasi uduk dulu,” kata si pengikut kepada Ki Wasyid.
Mendengar itu, lanjut Amsanah, Ki Wasyid cuma bisa geleng-geleng kepala. Namun, Ki Wasyid tetap menyetujui usul itu agar para pengikutnya tidak merasa lapar ketika melakukan penyerangan.
Malam harinya, setelah makan nasi uduk, pemberontakan dimulai. Semangat rakyat membara! Mereka teriak lantang, lari ke arah pos Belanda. Tapi di tengah jalan, ada satu pejuang muda yang malah balik arah. Ki Wasyid panik.
“Hei! Kenapa kau lari ke belakang?!” cerita Amsanah.
“Si pejuang menjawab: Lupa bawa golok, Ki! Tadi ditaruh di sebelah tungku nasi uduk!” kata Amsanah menuturkan kisah unik itu.
Meski banyak kejadian lucu, rakyat Banten tetap berani. Mereka berjuang dengan segala yang ada – dari bambu runcing, golok, sampai panci bekas masak santan. Sayangnya, Belanda punya senjata canggih.
Akhirnya pemberontakan bisa dipadamkan. Tapi semangat Ki Wasyid nggak pernah padam. Katanya sebelum ditangkap, beliau masih sempat mengatakan hal yang menginspirasi.
“Kalau pun kita kalah, semoga generasi nanti bisa melawan. Tapi jangan lupa sarapan dulu biar kuat!” kekeh Amsanah mengakhiri ceritanya. (*)



Discussion about this post