TANGERANG, BANPOS – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tangerang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya konten deepfake, yakni rekayasa video atau audio berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu meniru wajah maupun suara seseorang secara sangat meyakinkan.
Kepala Diskominfo Kota Tangerang, Mugiya Wardhany, mengatakan teknologi deepfake yang mulai dikenal sejak 2017 berkembang sangat cepat dan kini banyak digunakan dalam berbagai konten digital, mulai dari politik, hiburan, hingga penipuan online. Kondisi ini, kata dia, menjadi tantangan baru karena konten manipulatif semakin sulit dibedakan dari yang asli.
“Konten deepfake kini semakin sulit dibedakan dari yang asli. Masyarakat perlu membekali diri dengan pengetahuan agar tidak mudah tertipu,” ujar Mugiya, Minggu (16/11).
Untuk menghindari misinformasi, Diskominfo Kota Tangerang membagikan sejumlah ciri visual dan audio yang dapat digunakan masyarakat untuk mengenali konten deepfake. Dari sisi visual, deepfake biasanya memperlihatkan ekspresi wajah yang janggal atau tidak selaras dengan gerakan tubuh. Kulit wajah tampak terlalu halus, tidak sesuai usia, atau memiliki tekstur yang berbeda dengan rambut dan mata.
Selain itu, kata Mugiya, bayangan dan pencahayaan yang tidak wajar pada area mata dan alis dapat menjadi tanda manipulasi. Pada pengguna kacamata, pantulan cahaya sering kali tidak konsisten dengan gerakan kepala. Unsur wajah seperti kumis, jenggot, atau cambang yang terlihat tidak menyatu dengan kulit juga perlu dicurigai. Tahi lalat yang hilang, berpindah tempat, atau tampak tidak alami turut menjadi indikasi rekayasa.
Dari sisi audio, frekuensi kedipan mata yang terlalu sering atau justru sangat jarang dapat menunjukkan proses AI. Sinkronisasi antara suara dan gerak bibir pun sering menjadi titik lemah video palsu; bila tampak tidak natural, masyarakat diminta segera meragukan keasliannya. (*)
Dengan meningkatnya penyalahgunaan teknologi deepfake, Diskominfo mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam mengonsumsi konten digital dan tidak mudah menyebarkan video atau audio mencurigakan tanpa verifikasi.(*)











Discussion about this post