SERANG, BANPOS – Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis jangka panjang yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) darah yang terlalu tinggi.
Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi cukup insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif untuk mengubah glukosa dari makanan menjadi energi.
Kini, diabetes tidak hanya menyerang kalangan masyarakat usia tua.
Berdasarkan informasi yang dihimpun BANPOS, per bulan Oktober 2024, total suspect atau indikasi penderita diabetes di tahun 2024 sebanyak 225.026 kasus.
Dari jumlah itu, 25 diantaranya adalah kasus DM pada anak di bawah 15 tahun.
Jumlah penderita penyakit diabetes di Banten pada tahun 2024 ini mengalami kenaikan jika dibanding dengan tahun 2023 lalu.
Di mana, pada tahun 2023, penderita diabetes di Banten tercatat sebanyak 176.538 kasus.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Banten, Mohammad Rifky, menjelaskan bahwa selain karena faktor genetik, penyakit diabetes merupakan penyakit yang lebih cenderung disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat.
Rifky menyebutkan bahwa penyakit ini bukanlah jenis penyakit yang menular.
Meski begitu, semua orang rentan mengidap penyakit ini.
Oleh karena itu, dirinya mengimbau agar masyarakat bisa menjaga pola makan, dan olahraga yang teratur.
Sebab, diabet merupakan penyakit gula berlebih yang menguranginya perlu adanya pembakaran dengan cara olahraga.
“Sederhananya, si badan itu kan kalau penyakit diabetes gula yang masuk ke badan itu nggak bisa diolah, jadi gulanya numpuk, jadi kental di darah, jadi ngebahayain organ-organ vital. Gula itu bisa hilang kalau dia itu dibakar jadi energi. Makanya kalau tahu dari awal, itu kan lifestyle yang dirubah. Bagaimana olahraga yang teratur, bagaimana mengatur pola makan,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan, Ketua Perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam indonesia (PAPDI) Banten, Ahmad Mekah, yang menyebut faktor risiko utama diabetes yakni pada faktor obesitas serta kurangnya aktivitas fisik atau olahraga.
“Obesitas dikenal sebagai salah satu faktor risiko kuat untuk diabetes karena meningkatkan resistensi insulin, peradangan kronis, dan beban metabolik,” ungkapnya
“Kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat. Gaya hidup modern, urbanisasi, pekerjaan kurang gerak, kemudahan makanan cepat saji umumnya meningkatkan risiko,” tambahnya. (*)



Discussion about this post