JAKARTA, BANPOS – Momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia terus berlanjut dengan capaian 5,04% (year-on-year) pada triwulan III 2025. Kinerja tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, ekspor yang solid, investasi yang tangguh, serta optimalisasi belanja pemerintah. Pemerintah optimistis momentum ini dapat dipertahankan hingga akhir tahun melalui strategi kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi.
“Realisasi triwulan III menunjukkan bahwa APBN dikelola secara efektif, diperkuat koordinasi erat dengan otoritas moneter dan sektor keuangan. APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung dunia usaha agar lebih berdaya saing,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menkeu menambahkan, dukungan fiskal juga diberikan melalui penempatan Rp200 triliun kas negara untuk menjaga likuiditas ekonomi, serta kebijakan nonfiskal guna mempercepat realisasi investasi.
Kinerja konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89% (yoy), didorong meningkatnya mobilitas penduduk, transaksi digital, dan belanja masyarakat. Pengeluaran untuk transportasi dan komunikasi naik 6,41%, sementara konsumsi restoran dan hotel meningkat 6,3% seiring melonjaknya wisatawan nusantara hingga 21,8%. Konsumsi pemerintah pun naik 5,49%, mencerminkan komitmen pemerintah menjaga daya beli melalui percepatan belanja barang dan pegawai.
Dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,04% (yoy) berkat meningkatnya keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional. Investasi bangunan tumbuh 3,02% didukung percepatan proyek strategis nasional, sedangkan investasi mesin naik 17,00% seiring modernisasi produksi industri. Di sisi lain, ekspor barang dan jasa riil melonjak 9,91% (yoy), ditopang permintaan tinggi dari negara mitra dagang dan penguatan sektor industri hilirisasi. Produk ekspor unggulan seperti lemak dan minyak nabati, besi baja, serta mesin dan peralatan listrik menunjukkan kinerja positif.
Sektor industri pengolahan tumbuh solid, terutama industri makanan dan minuman (6,49%), logam dasar (18,62%), serta kimia dan farmasi (11,65%). Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur juga menunjukkan ekspansi di level 51,2 pada Oktober 2025. Sektor konstruksi tumbuh 4,21%, didorong percepatan proyek strategis nasional, sementara sektor perdagangan, akomodasi, dan informasi komunikasi mencatat pertumbuhan di atas 5%. Secara spasial, Sulawesi mencatat pertumbuhan tertinggi 5,84%, disusul Jawa (5,17%) dan Sumatera (4,90%).
Momentum pertumbuhan ekonomi juga berdampak positif pada lapangan kerja, dengan penciptaan 1,9 juta pekerjaan baru hingga Agustus 2025. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 4,91% menjadi 4,85%, dengan sektor pertanian, manufaktur, dan perdagangan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. “Ke depan, pemerintah akan terus mendorong agar mesin pertumbuhan ekonomi berjalan lebih cepat dan stabil. Sinergi kebijakan fiskal, sektor keuangan, dan investasi akan terus diperkuat demi menciptakan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan,” tutup Menkeu. (*)











Discussion about this post