JAKARTA, BANPOS — Dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina di ranah media digital menjadi keharusan di era informasi saat ini. Hal itu mengemuka dalam Seminar Internasional “The Role of Indonesian Media in Palestine’s Effort to Achieve True Independence” di Jakarta, Jumat (7/11).
Wartawan senior Pizaro Gozali, yang pernah bertugas di Kantor Berita Turki Anadolu Agency, menegaskan pentingnya memperkuat peran media siber dalam mengangkat isu kemanusiaan dan kejahatan perang Israel. “Media arus utama sering kali hanya menyoroti reaksi Palestina, bukan tindakan Israel. Padahal, Palestina sedang membela diri,” ujarnya, mengutip jurnalis Palestina-Amerika, Mariam Barghouti.
Aktivis Annisa Theresia, dalam paparannya berjudul “Centering Human Dignity Through Creativity”, menyebut bahwa yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik, tetapi pendudukan dan genosida yang disiarkan secara langsung ke seluruh dunia.
Ia mengutip utusan khusus PBB Francesca Albanese yang menyebut genosida di Gaza sebagai kejahatan kolektif dunia karena minimnya tindakan nyata untuk menghentikannya. “Lebih dari 70 ribu warga Gaza telah menjadi korban. Bahkan setelah kesepakatan damai, ratusan orang masih dibunuh oleh tentara Israel,” ujarnya.
Annisa menambahkan, perjuangan juga dilakukan lewat seni dan kreativitas. Ia mencontohkan lagu “Hind’s Hall” karya Macklemore yang menceritakan pembunuhan bocah perempuan Hind Rajab oleh tentara Israel.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi indo.palinfo.com Ahmad Tirmizi menekankan perlunya media Indonesia mengangkat aspek hukum humaniter dan kejahatan perang Israel. “Israel tidak hanya membunuh warga Gaza, tetapi juga membunuh kebenaran melalui manipulasi narasi di media global,” ujarnya.
Mantan anggota Dewan Pers Dr. Asep Setiawan menambahkan, liputan pers Indonesia terhadap Gaza terus berkembang. “Pada awal konflik, pemberitaan bersifat emosional. Kini liputan sudah lebih kritis dan analitis dalam mengungkap akar permasalahan serta dampak kemanusiaannya,” jelasnya.
Seminar ini turut dihadiri Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Dr. Teguh Santosa dan perwakilan dari Asia Middle East Center for Research and Dialogue (AMEC). (*)











Discussion about this post