SERANG, BANPOS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah menciptakan momentum penting untuk meningkatkan konsumsi susu di kalangan pelajar, guna memperkuat asupan gizi generasi muda.
Meski demikian, konsumsi susu nasional masih tertinggal dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN. Hal ini terungkap dalam kegiatan ‘Ngobrol Santai’ Lamipak bersama awak media dengan tema ‘Strategic Outlook For A Sustainable Aseptic Packaging Manufakturing’ di Wisata Agro Bukit Waruwangi, Cinangka, Kabupaten Serang, Kamis (30/9/2025) lalu.
Rata-rata konsumsi susu per kapita di Indonesia baru mencapai 16,3 kilogram per tahun, jauh di bawah Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina yang mencatat tingkat konsumsi 50–100 persen lebih tinggi.
Kondisi ini menegaskan perlunya langkah komprehensif untuk meningkatkan literasi gizi dan memperluas akses terhadap produk bergizi, terutama bagi pelajar di wilayah pelosok.
Seiring dengan pelaksanaan MBG, kebutuhan susu nasional diperkirakan meningkat signifikan. Dari sekitar 4,4 juta ton saat ini, permintaan diprediksi menembus lebih dari 5,5 juta ton pada 2030, bahkan berpotensi mencapai 8,9 juta ton jika program berjalan penuh. Kenaikan kebutuhan ini menimbulkan tantangan baru terkait pasokan dan distribusi.
Dalam konteks tersebut, kemasan aseptik menjadi salah satu solusi untuk menjaga kualitas dan keamanan susu dalam rantai distribusi nasional.
Produk dalam kemasan konvensional rata-rata hanya bertahan 2–3 minggu, sementara kemasan aseptik mampu mempertahankan kualitas hingga satu tahun tanpa pendinginan.
Keunggulan ini dinilai relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan karakteristik distribusi yang menantang.
“Memang kemasan aseptik sangat cocok untuk kemasan susu di program MBG karena Indonesia adalah negara kepulauan, dimana kemasan aseptik dapat menyimpan susu selama 6–12 bulan, sehingga jauh lebih baik dibandingkan kemasan lainnya,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa.
“Selain itu, pemanfaatan limbah kemasan aseptik kini banyak diolah menjadi barang bermanfaat, seperti furnitur,” tambahnya.
Dewan Pakar Badan Gizi Nasional (BGN), Prof. Epi Taufik, turut menilai program MBG memiliki dampak berlapis.
“Program ini bukan hanya sarana peningkatan gizi, tetapi juga wadah edukasi bagi masyarakat dalam mengelola limbah, mulai dari memilah, mendaur ulang, hingga memanfaatkan kembali kemasan susu menjadi produk bernilai guna,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah menyatakan komitmennya meningkatkan daya saing industri kemasan aseptik dalam negeri melalui penguatan industri nasional dan mendorong investasi baru untuk mengurangi ketergantungan impor. (*)

Discussion about this post