SERANG, BANPOS – Himpunan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi (Himmikom) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) terus menghadirkan inovasi dalam menyebarkan gagasan pembangunan daerah melalui program ‘Mikom Voice’.
Program ini menjadi ruang kreatif mahasiswa pascasarjana komunikasi untuk membuka dialog publik yang edukatif, kritis, dan dekat dengan masyarakat.
Melalui format podcast “Dialog Pembangunan”, Himmikom Untirta membahas berbagai isu strategis di Provinsi Banten, mulai dari kebijakan pemerintahan, pembangunan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat desa, hingga isu pendidikan dan sosial. Program tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai unsur, seperti pejabat daerah, akademisi, anggota legislatif, hingga tokoh muda.
Selain tayangan di studio, Himmikom memperluas pendekatan publik dengan meluncurkan “Podcast On The Road”, sebuah format lapangan yang membawa diskusi langsung ke tengah masyarakat. Tim Mikom Voice turun ke desa, sekolah, dan lokasi proyek pembangunan untuk mendengar aspirasi warga sekaligus membangun dialog partisipatif.
Ketua Himmikom Untirta, Mohamad Syuryadi, menyebut program ini sebagai upaya memperkuat literasi publik dan menjembatani komunikasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
“Lewat Mikom Voice, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang kritis namun tetap konstruktif. Podcast ini bukan sekadar media hiburan, tetapi juga sarana untuk membangun kesadaran publik tentang pentingnya komunikasi dalam proses pembangunan,” ujar Syuryadi.
Ia menjelaskan, format ‘On The Road’ dirancang untuk menangkap langsung dinamika sosial dan potensi daerah di lapangan.
“Kami turun langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana potensi lokal bisa dikembangkan dan apa saja hambatan yang dihadapi masyarakat. Di Padarincang, misalnya, kami menemukan banyak potensi luar biasa di sektor pertanian dan peternakan. Ada anak-anak muda kreatif yang mengembangkan budidaya tomat hingga ternak domba. Sayangnya, potensi mereka belum banyak mendapat dukungan dari pemerintah,” jelasnya.
Host Podcast Mikom Voice dan Podcast On The Road, Shofiyatunnisa Ihsanti, menilai program ini menjadi media pembelajaran praktik bagi mahasiswa.
“Magister Ilmu Komunikasi Untirta melalui Himmikom benar-benar memberikan ruang bagi mahasiswa untuk beraktualisasi dan berinovasi. Lewat kegiatan ini, kami tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik komunikasi pembangunan secara nyata,” ujar Shofi.
Shofi menambahkan, kegiatan tersebut turut membuka ruang bagi masyarakat akar rumput untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi.
“Sering kali masyarakat di akar rumput punya ide dan potensi besar, tapi mereka tidak punya ruang untuk berbicara. Di sinilah peran kami menjadi jembatan yang menyampaikan aspirasi mereka secara konstruktif kepada pemerintah dan publik. Komunikasi pembangunan bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mendengarkan dengan empati,” tegasnya.
Himmikom Untirta telah menghadirkan berbagai narasumber, termasuk Kepala Dinas Kominfo Provinsi Banten, anggota DPR RI, hingga influencer yang peduli isu komunikasi publik dan pembangunan daerah. Kehadiran para tokoh tersebut mendorong perluasan jaringan serta memperkuat kontribusi mahasiswa dalam proses pembangunan.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Untirta, Ail Muldi, menilai program dialog ini menjadi ruang penting dalam membahas persoalan pembangunan daerah secara lebih terbuka dan terarah.
“Dialog pembangunan, inspirasi kemajuan, kita ingin memperbanyak konten konten diskusi dan dialog tentang persoalan pembangunan. Sekaligus juga solusi yang bisa dilakukan untuk menjawab masalah tersebut sehingga persoalan pembangunan bisa dituntaskan dan juga bisa dikembangkan kedepannya,” ujarnya.
Ia menegaskan, dialog tersebut tidak hanya menggali akar persoalan, tetapi juga mendorong solusi dan gagasan baru yang relevan bagi kemajuan Banten.
“Dialog pembangunan juga, selain mencari akar masalah untuk menjawab masalah. Tapi juga solusi untuk persoalan pembangunan kedepan. Sekaligus membuka wacana, ide atau gagasan baru. Setidaknya tentang persoalan-persoalan yang memang masih terjadi di provinsi Banten,” ucapnya.
Menurutnya, partisipasi publik merupakan indikator penting dalam kemajuan daerah. Karena itu, pelibatan narasumber seperti pejabat Kominfo dan anggota DPRD Kota Serang dilakukan untuk menilai peran pemerintah dan legislatif dalam mendorong keterlibatan masyarakat.
“Karena dengan partisipasi publik, maka pelaksanaan pembangunan akan lebih mudah dilakukan. Partispasi publik juga menjadi sarana proses pembelajaran sekaligus menjadi masukan untuk pemerintah provinsi kedepan khususnya pada program-program yang memang berkaitan dengan masyarakat,” katanya.
Ail menambahkan, kegiatan diskusi ini akan dilakukan secara rutin untuk memperluas wacana pembangunan di ruang publik.
“Kegiatan ini rutin dilakukan untuk membiasakan diskursus atau wacana tentang persoalan-persoalan tentang pembangunan lebih banyak mengemuka . Lebih banyak jadi bahan diskusi. Meskipun kita mungkin tidak bisa menjawab secara langsung. Tapi minimal wacana-wacana ini akan memberi ruang yang lebih luas. Insight yang lebih luas. Berkaitan apa yang dilakukan oleh pemerintah ataupun oleh kelompok masyarakat sipil. Ataupun membuka peran yang lebih luas pada korporasi untuk ikut terlibat dalam pembangunan,” tuturnya.
Dengan pendekatan kreatif dan berbasis dialog, Mikom Voice kini bukan hanya menjadi media internal kampus, tetapi juga ruang publikasi yang ikut memperkuat peran Untirta sebagai kampus perjuangan dan penggerak pembangunan berkelanjutan di Banten. (*)

Discussion about this post