Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menumbuhkan Sikap Toleransi Antar Siswa di Sekolah Dasar

by Tim Redaksi
Oktober 27, 2025
in VOX POPULI
Peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Menumbuhkan Sikap Toleransi Antar Siswa di Sekolah Dasar

Oleh : Neneng Aisah
Mahasiswi FKIP Untirta
NIM: 2227230027

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal tidak hanya berfungsi untuk mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga membentuk sikap, moral, dan nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Menurut Winataputra (2011), PKn berfungsi sebagai sarana untuk membentuk warga negara yang cerdas, bertanggung jawab, dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Melalui pembelajaran PKn, siswa diharapkan mampu memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara serta mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga

Tekan Asap Sampah Warga, Kkm Untirta Hadirkan Incinerator di Kadumaneuh

Tekan Asap Sampah Warga, Kkm Untirta Hadirkan Incinerator di Kadumaneuh

Februari 9, 2026
Mahasiswa KKM 67 UNTIRTA Bangun Insinerator Minim Asap di Lambangsari

Mahasiswa KKM 67 UNTIRTA Bangun Insinerator Minim Asap di Lambangsari

Februari 7, 2026
Gubernur Andra: Kepala Daerah Harus Siap Dicaci Dimaki

Gubernur Andra: Kepala Daerah Harus Siap Dicaci Dimaki

Januari 29, 2026
Mahasiswa KKM 68 Untirta Gelar Penyuluhan Pencegahan Diabetes dan Cek Kesehatan Gratis di Desa Mangkunegara

Mahasiswa KKM 68 Untirta Gelar Penyuluhan Pencegahan Diabetes dan Cek Kesehatan Gratis di Desa Mangkunegara

Januari 26, 2026

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, sikap toleransi menjadi salah satu nilai penting yang perlu ditanamkan sejak dini. Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan budaya yang menuntut warganya untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati. Lickona (2012) menyatakan bahwa pendidikan karakter, termasuk sikap toleransi, harus dibangun melalui pembiasaan dan keteladanan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, peran guru dan pembelajaran PKn menjadi sangat penting dalam membentuk generasi muda yang mampu menghargai perbedaan dan menjaga persatuan dalam keberagaman.

Sekolah dasar menjadi tempat yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai toleransi karena pada tahap ini anak berada pada masa pembentukan karakter. Melalui pembelajaran PKn, siswa diperkenalkan dengan nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, kebersamaan, dan gotong royong. Guru berperan sebagai fasilitator dan teladan dalam mengajarkan sikap saling menghargai antar teman yang memiliki latar belakang berbeda. Menurut Tilaar (2004), pendidikan multikultural yang terintegrasi dalam PKn dapat membantu siswa memahami keberagaman sebagai kekayaan bangsa, bukan sebagai sumber perpecahan.

Selain melalui pembelajaran di kelas, penanaman nilai toleransi juga dapat diwujudkan melalui kegiatan sekolah seperti kerja sama antar siswa, proyek kelompok, dan kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan semangat kebersamaan. Namun demikian, tantangan modernisasi dan pengaruh media sosial sering kali menjadi hambatan dalam pembentukan sikap toleran di kalangan siswa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang menyeluruh dan berkelanjutan agar nilai-nilai toleransi benar-benar tertanam dalam diri siswa.

Pembahasan

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang berperan penting dalam membentuk kepribadian siswa agar menjadi warga negara yang baik, cerdas, dan berkarakter. Menurut Winataputra (2011), PKn berfungsi sebagai wahana pembentukan warga negara yang memiliki rasa tanggung jawab, kesadaran hukum, serta kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di sisi lain, toleransi merupakan sikap menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di masyarakat, baik perbedaan agama, suku, budaya, maupun pendapat. Lickona (2012) menyatakan bahwa toleransi adalah bagian dari nilai moral universal yang perlu ditanamkan sejak usia dini agar anak mampu hidup damai dalam keberagaman. Dengan demikian, PKn menjadi sarana strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi kepada peserta didik di sekolah dasar.

Tujuan utama pembelajaran PKn di sekolah dasar tidak hanya untuk mengenalkan siswa pada konsep kenegaraan, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran moral dan sosial agar mereka mampu berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Berdasarkan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dan Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek, 2022), salah satu capaian utama PKn adalah membentuk profil pelajar Pancasila yang beriman, berakhlak mulia, bergotong royong, dan memiliki semangat kebinekaan global. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar dalam menumbuhkan sikap toleransi, di mana siswa diajarkan untuk menerima dan menghormati perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Penerapan nilai-nilai toleransi dalam pembelajaran PKn dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas. Guru dapat memberikan contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, seperti pentingnya menghormati teman yang berbeda agama atau budaya. Selain itu, diskusi kelompok dan studi kasus juga menjadi sarana efektif bagi siswa untuk belajar menghargai perbedaan pendapat.

Tilaar (2004) berpendapat bahwa pendidikan multikultural dalam pembelajaran PKn dapat menumbuhkan kesadaran dan penghargaan terhadap perbedaan budaya yang ada di lingkungan sekolah. Somantri (2001) juga menegaskan bahwa PKn berperan dalam membentuk kesadaran berbangsa dan menanamkan sikap saling menghormati antar warga negara sejak dini.

Guru memiliki peran sentral dalam menanamkan nilai toleransi melalui keteladanan. Guru yang bersikap adil, sabar, dan menghargai setiap siswa tanpa membeda-bedakan latar belakang menjadi model nyata bagi peserta didik. Lickona (2012) menyatakan bahwa pendidikan karakter akan berhasil apabila guru mampu menjadi teladan atas nilai-nilai moral yang diajarkannya. Dengan demikian, perilaku guru yang konsisten dengan nilai-nilai toleransi menjadi pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa daripada sekadar penjelasan teori.

Selain faktor guru, lingkungan sekolah juga memiliki peran besar dalam mendukung tumbuhnya sikap toleransi. Kegiatan seperti upacara bendera, kerja bakti, peringatan hari besar nasional, serta proyek profil pelajar Pancasila dapat memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong antar siswa. Lingkungan sekolah yang kondusif dan inklusif memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar hidup rukun dan bekerja sama dalam perbedaan. Zamroni (2011) menegaskan bahwa lingkungan sekolah yang demokratis dan terbuka menjadi media efektif dalam menumbuhkan nilai toleransi di kalangan peserta didik.

Namun, penerapan nilai toleransi di sekolah dasar juga menghadapi beberapa tantangan. Faktor penghambat yang sering muncul antara lain kurangnya pemahaman siswa terhadap pentingnya menghargai perbedaan, pengaruh negatif media sosial, serta perbedaan latar belakang keluarga yang kadang memunculkan prasangka.

Oleh karena itu, peran guru dan sekolah sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan arahan yang konsisten agar nilai-nilai toleransi tetap tertanam dalam diri siswa. Dukungan dari orang tua dan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.

Secara keseluruhan, Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran yang sangat signifikan dalam menumbuhkan sikap toleransi antar siswa di sekolah dasar. Melalui pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai Pancasila, keteladanan guru, serta dukungan lingkungan sekolah, siswa dapat belajar menghargai perbedaan dan hidup harmonis dalam keberagaman. PKn bukan hanya mata pelajaran kognitif, tetapi juga sarana pembentukan karakter yang berkontribusi dalam menciptakan generasi bangsa yang berakhlak mulia, demokratis, dan berwawasan kebinekaan.

Simpulan

Pendidikan Kewarganegaraan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan sikap toleransi antar siswa di sekolah dasar. Melalui pembelajaran yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, siswa diajarkan untuk menghargai perbedaan suku, agama, budaya, dan pendapat dalam kehidupan sehari-hari.

Guru berperan penting sebagai teladan dan pembimbing dalam membentuk perilaku toleran melalui pembelajaran kontekstual, diskusi, serta kegiatan kolaboratif di kelas. Dengan penerapan yang konsisten, PKn tidak hanya menanamkan pengetahuan tentang kewarganegaraan, tetapi juga menumbuhkan karakter yang menghargai keberagaman dan memperkuat persatuan di lingkungan sekolah. (*)

Artikel Ini Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewarganegaraan
Dosen Pengampu: Dr. Ujang Jamaludin, S.Pd.., M.Si., M.Pd.

REFERENSI

Kemendikbudristek. (2022). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Lickona, T. (2012). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

Muslich, M. (2011). Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

Permendiknas Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Somantri, N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tilaar, H. A. R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo.

Winataputra, U. S. (2011). Pendidikan Kewarganegaraan dalam Perspektif Internasional dan Nasional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Zamroni. (2011). Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural. Yogyakarta: Gavin Kalam Utama.

Zuchdi, D. (2011). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Teori dan Praktik. Yogyakarta: UNY Press.

 

Tags: Universitas Sultan Ageng Tirtayasauntirta
ShareTweetSend

Berita Terkait

Tekan Asap Sampah Warga, Kkm Untirta Hadirkan Incinerator di Kadumaneuh
PENDIDIKAN

Tekan Asap Sampah Warga, Kkm Untirta Hadirkan Incinerator di Kadumaneuh

Februari 9, 2026
Mahasiswa KKM 67 UNTIRTA Bangun Insinerator Minim Asap di Lambangsari
PENDIDIKAN

Mahasiswa KKM 67 UNTIRTA Bangun Insinerator Minim Asap di Lambangsari

Februari 7, 2026
Gubernur Andra: Kepala Daerah Harus Siap Dicaci Dimaki
PEMERINTAHAN

Gubernur Andra: Kepala Daerah Harus Siap Dicaci Dimaki

Januari 29, 2026
Mahasiswa KKM 68 Untirta Gelar Penyuluhan Pencegahan Diabetes dan Cek Kesehatan Gratis di Desa Mangkunegara
PENDIDIKAN

Mahasiswa KKM 68 Untirta Gelar Penyuluhan Pencegahan Diabetes dan Cek Kesehatan Gratis di Desa Mangkunegara

Januari 26, 2026
Mahasiswa KKM 97 UNTIRTA Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Dusun Cikukuk Landeh
PENDIDIKAN

Mahasiswa KKM 97 UNTIRTA Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Dusun Cikukuk Landeh

Januari 26, 2026
Mahasiswa KKM 97 UNTIRTA Sosialisasikan Anti Bullying di SDN Pasanggrahan
PENDIDIKAN

Mahasiswa KKM 97 UNTIRTA Sosialisasikan Anti Bullying di SDN Pasanggrahan

Januari 26, 2026
Next Post
Loker Ini Masih Sepi Peminat, Tertarik Daftar?

Loker Ini Masih Sepi Peminat, Tertarik Daftar?

Discussion about this post

Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh