SERANG, BANPOS – Puluhan perempuan di Kota Serang mengikuti pelatihan yang digelar Lembaga Penyedia Layanan Pemberdayaan Perempuan (LPLPP) PRIMA Banten bersama Women Political Leadership (WPL).
Kegiatan yang bernama beauty class dan diskusi bertajuk “Tubuh Perempuan Antara: Citra, Kuasa, dan Identitas, Perempuan Bukan Alat Komoditas”, Rabu (22/10).
Kegiatan ini menggabungkan pelatihan kecantikan dengan edukasi kesetaraan gender untuk mendorong perempuan lebih berdaya dan mampu memahami nilai diri di tengah arus komersialisasi tubuh perempuan.
Delegasi WPL, Siti Aisyah atau yang akrab disapa Aca, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar perempuan dapat merebut kembali definisi kecantikan dari konstruksi sosial yang selama ini sering menempatkan mereka sebagai objek.
“Kalau kita lihat sekarang banyak iklan atau kampanye politik yang menampilkan perempuan hanya sebagai objek, entah alat politik atau simbol belaka. Melalui kegiatan ini, kita ingin mengenal kembali makna cantik itu seperti apa, dan bagaimana kita bisa merebut bentuk kecantikan itu untuk diri kita sendiri,” ujar Aca.
Selain berbagi pengetahuan tentang perawatan diri, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi tentang isu-isu perempuan, seperti kekerasan seksual dan hak atas tubuh.
Menurut Aca, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong perempuan agar mampu melindungi dirinya sendiri dan saling menguatkan.
“Kalau kita bicara perempuan bukan komoditas, itu artinya kita tidak boleh dikendalikan oleh siapapun. Tubuh kita adalah hak kita, bukan milik orang lain, entah itu pasangan, atasan, atau siapa pun. Kita yang punya kuasa atas diri sendiri,” tegasnya.
Aca menambahkan, kegiatan ini juga akan berlanjut melalui pembentukan Duta Prima, yaitu jaringan perempuan muda Banten yang fokus pada isu kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Program tersebut lahir dari hasil riset yang menemukan dua faktor utama penyebab tingginya angka anak putus sekolah di Banten, yakni infrastruktur dan kekerasan seksual.
“Dari data Simfoni PPA, kasus kekerasan seksual di Banten jumlahnya mencapai ratusan. Maka lewat Duta Prima, kami ingin perempuan muda punya ruang untuk belajar, berjejaring, sekaligus jadi pelindung bagi diri dan lingkungannya,” tandas Aca.
Hal senada disampaikan oleh Ketua LPLPPP Prima, Faridhotul Jannah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melawan eksploitasi dan objektifikasi tubuh perempuan, yang masih sering terjadi, termasuk dalam iklan-iklan yang tidak memiliki korelasi logis antara tubuh perempuan dan produk yang dijual.
”Tubuh perempuan bukanlah sesuatu yang dapat dieksploitasi, bukan sesuatu yang kemudian bisa dijadikan komoditas,” ujar Faridhotul.
Harapannya, melalui kegiatan seperti beauty class yang juga diintegrasikan dalam program ini, peserta dapat menyadari bahwa kecantikan tidak hanya soal tubuh, dan makeup bukan untuk memuaskan pihak lain.
Selain itu, lanjutnya, Program Duta Prima yang pihaknya gagas ini juga dirancang untuk memberdayakan perempuan agar berani speak up atau bersuara melawan penindasan yang mereka rasakan.
LPLPP Prima Banten mengakui bahwa masyarakat Indonesia yang masih didominasi budaya patriarkal seringkali menyalahkan korban, terutama perempuan, saat terjadi kasus kekerasan.
”Kalaupun perempuan speak up, itu kan seringnya justru disalah-salahkan. Misalkan, kalau dia korban pelecehan, biasanya disalahkan baju. Kenapa pakai baju seksi seperti itu,” jelasnya.
“Diharapkan, pasca kegiatan ini, perempuan tidak lagi takut dan mampu tampil percaya diri di ruang publik, mengambil peran dan ruang strategis, alih-alih hanya sekadar ikut-ikutan dalam kegiatan,” tandasnya. (*)

Discussion about this post