SERANG, BANPOS – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Banten Tinawati Andra Soni mendorong pemerataan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah terpencil, termasuk Pulau Tunda, Kabupaten Serang.
Dalam kunjungan kerja ke lokasi tersebut, Senin (20/10), ia menyerap aspirasi warga tentang kebutuhan listrik, sarana kesehatan, dan pendidikan menengah.
“Kunjungan ini menjadi ajang belanja masalah. Walaupun bukan di lingkup kebijakan PKK, kami adalah mitra strategis pemerintah yang bersinergi dalam pemberdayaan perempuan, keluarga, dan lingkungan,” ujar Tinawati dalam keterangannya di Kota Serang, Selasa.
Tinawati menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan keluarga tidak bisa dilepaskan dari dukungan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi.
Ia mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. “Pemanfaatan pekarangan bisa mendukung pemenuhan gizi keluarga serta menjadikan rumah tangga lebih mandiri,” katanya.
Dalam kunjungan itu, TP PKK bersama sejumlah perangkat daerah melaksanakan berbagai program terpadu, seperti Gerakan Pemanfaatan Pekarangan melalui Program Aku Hatinya PKK, pelatihan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), serta pemberian bantuan makanan bergizi untuk keluarga berisiko stunting.
Sebanyak 35 warga perempuan mengikuti pelatihan pembuatan dimsum dan nugget sebagai upaya meningkatkan keterampilan dan ekonomi keluarga.
“Kesejahteraan keluarga menjadi perhatian utama. Semua ini tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakat. Saya berharap semangat gotong royong dan kebersamaan terus dijaga agar Pulau Tunda semakin sehat dan sejahtera,” ujar Tinawati.
Kepala Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa Hasim menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menyebut kehadiran TP PKK menjadi semangat baru bagi masyarakat Pulau Tunda. “Ini bekal untuk anak cucu kita nanti,” katanya.
Hasim menjelaskan sebagian besar warga bekerja sebagai nelayan dan tergabung dalam Koperasi Merah Putih. Namun, kebutuhan listrik masih menjadi persoalan utama.
“Sejak saya lahir, masyarakat Pulau Tunda belum pernah merasakan listrik 24 jam. Kami berharap ada penerangan penuh setiap hari,” ujarnya.
Saat ini listrik di Pulau Tunda masih bergantung pada genset yang beroperasi 12 jam per malam dengan kebutuhan 220 liter solar tanpa subsidi.
Selain listrik, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya akses kesehatan dan pendidikan. Pulau Tunda hanya memiliki sekolah hingga tingkat SMP, sementara fasilitas kesehatan masih terbatas dan membutuhkan ambulans laut. “Kapal penumpang ke Karangantu hanya beroperasi tiga kali seminggu, ini menyulitkan pasien rujukan,” kata Hasim. (*)

Discussion about this post