CILEGON, BANPOS – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cilegon terus berupaya menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswanya. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Jurnalistik dan Penulisan Karya Ilmiah yang digelar di aula utama madrasah, Sabtu (11/10).
Kegiatan ini menghadirkan dosen Universitas Bina Bangsa sekaligus penulis dan kolumnis Banten, Malik Fatoni, sebagai narasumber utama. Pelatihan diikuti puluhan siswa yang tergabung dalam organisasi OSIM dan ekstrakurikuler jurnalistik madrasah.
Kepala MAN 1 Cilegon, Maryati, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen madrasah untuk memperkuat tradisi menulis dan berpikir ilmiah di lingkungan pendidikan Islam.
“Kami ingin siswa MAN 1 Cilegon tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu menulis dan menyampaikan gagasan yang membangun. Literasi adalah jalan menuju perubahan,” ujarnya.
Dalam paparannya, Malik Fatoni menekankan pentingnya kemampuan menulis sebagai bentuk kecerdasan berpikir dan kontribusi terhadap masyarakat.
“Menulis bukan hanya menyusun kalimat, tapi melatih cara berpikir dan berargumen secara ilmiah. Siswa madrasah harus berani menulis agar mampu menyampaikan gagasan yang mencerahkan publik,” jelasnya.
Pelatihan dibagi menjadi dua sesi utama. Sesi pertama membahas dasar-dasar jurnalistik, termasuk teknik menulis berita, prinsip 5W+1H, dan etika jurnalistik.
Sesi kedua fokus pada penulisan karya ilmiah populer yang mengajarkan perumusan ide, pengumpulan data, hingga cara menyajikan tulisan menarik bagi pembaca umum.
Selain teori, peserta juga mengikuti praktik menulis berita tentang kegiatan tersebut. Beberapa karya terbaik rencananya akan dimuat dalam buletin internal dan laman resmi MAN 1 Cilegon.
Malik Fatoni menyebut kegiatan seperti ini penting untuk memperkuat posisi madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya fokus pada agama, tetapi juga pengembangan ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis.
“Madrasah adalah benteng moral sekaligus laboratorium intelektual. Dari sini harus lahir penulis-penulis muda yang berbicara melalui karya, bukan sekadar opini kosong,” tegasnya.
Para siswa terlihat antusias selama mengikuti pelatihan. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi mengenai isu-isu aktual yang bisa dijadikan bahan tulisan.
Salah satu peserta, Naimah Mardiyya Al-Adawiyah dari kelas X.4, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman baru.
“Selama ini saya suka menulis di media sosial, tapi belum tahu cara menulis berita dan karya ilmiah yang baik. Setelah ikut pelatihan ini, saya jadi lebih paham dan termotivasi untuk menulis di media madrasah,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan pesan inspiratif dari Malik Fatoni yang mengajak para siswa untuk terus berlatih dan menjadikan menulis sebagai kebiasaan.
“Menulis adalah amal intelektual. Jika membaca membuka wawasan, maka menulis meneguhkan pengetahuan. Teruslah berproses, tekun membaca, dan jangan takut gagal,” pesannya. (*)



Discussion about this post