JAKARTA, BANPOS – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pastikan stok pangan, terutama beras medium, daging, dan komoditas strategis lainnya dalam kondisi yang aman hingga akhir tahun 2025. Meski begitu pasokan beras premium masih diupayakan pemenuhannya menyusul kasus beras oplosan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok menjelaskan, ketersediaan beras medium masih terpantau aman, terutama di pasar tradisional.
“Untuk beras medium sebenarnya masih relatif mudah kita temukan di pasaran, khususnya di pasar tradisional,” ujar Hasudungan di Balai Kota DKI Jakarta, dikutip Senin (6/10/2025).
Pemprov DKI Jakarta terus lakukan langkah antisipatif menjelang akhir tahun, terutama terkait dengan ketersediaan pangan strategis di ibu kota.
“Antisipasi akhir tahun terkait dengan ketersediaan pangan di Jakarta. Kita secara rutin juga sudah membuat prognosa, ataupun kalau dibilang prognosa, prediksi, terkait dengan stok pangan di Jakarta,” ujarnya.
Berdasarkan data prognosa, ketersediaan pangan di Jakarta dinilai mencukupi untuk dua bulan ke depan. Untuk beras, kebutuhan mencapai sekitar 156.745 ton, sedangkan stok tersedia sebanyak 303.297 ton.
Untuk daging sapi dan kerbau, kebutuhan dua bulan ke depan mencapai 11.999 ton, sedangkan stok mencapai 40.418 ton. Daging ayam ketersediaannya juga lebih melimpah daripada daging sapi. Karena kebutuhan kita 30.176 ton untuk dua bulan, sementara ketersediaan stok kita 74.940 ton.
“Cabe rawit merah kebutuhan per dua bulan itu 4.131 ton, sementara stok kita ketersediaan 9.272 ton. Jadi bisa dipastikan aman,” ungkapnya.
“Cabe merah keriting 5.595 ton, sementara ketersediaan 10.641 ton. Yang produk hortikultura lain seperti bawang merah, bawang putih, itu juga cukup,” tambahnya.
Namun, berbeda dengan beras medium, stok beras premium di Jakarta sempat terganggu akibat kasus pengoplosan beras yang terjadi sebelumnya.
Beberapa produsen lain yang terlibat dalam kasus tersebut juga tidak diperkenankan untuk beroperasi. Hal ini turut memengaruhi produksi dan distribusi beras premium di Jakarta.
“Ada beberapa produsen ataupun yang terlibat dalam pengoplosan beras tersebut, mengalami nasib yang sama. Jadi mereka tidak diperkenankan untuk menggiling atau mengemas beras tersebut,” ujarnya.
Hasudungan menjelaskan, prognosis pangan ini terus dilakukan secara berkala. Untuk bulan September hingga Oktober 2025 sudah dibuat perhitungan. Sementara untuk November dan Desember juga tengah dipersiapkan. (*)

Discussion about this post