HARI jadi Kabupaten Serang yang ke-499 sejatinya bisa menjadi momentum refleksi besar. Hampir lima abad usia daerah ini, namun persoalan mendasar yang dihadapi masyarakatnya terasa tak banyak berubah. Harapan masyarakat tetap sama dari masa ke masa: kemudahan mencari pekerjaan, kepastian dalam penghidupan, dan peluang untuk menata masa depan yang lebih baik.
Saya lahir, tumbuh, dan bersekolah di Kabupaten Serang. Sejak kecil, telinga saya akrab dengan keluhan yang sama: sulit mencari pekerjaan.
Ironisnya, keluhan itu masih bergema hingga hari ini, ketika usia Kabupaten Serang hampir menyentuh setengah milenium. Padahal, kita hidup di kawasan yang dikelilingi oleh industri besar, kawasan industri modern, bahkan koridor ekonomi strategis. Namun realitas di lapangan berkata lain, akses untuk bisa masuk ke dunia kerja industri ternyata jauh dari mudah.
Tidak jarang, meski syarat administrasi telah dipenuhi, ada saja alasan yang membuat masyarakat lokal gagal menembus tembok industri. Persoalan ini bukan cerita baru. Saya sendiri pernah mengalaminya, merasakan pahitnya penolakan meski sudah memenuhi kualifikasi.
Dan sayangnya, pengalaman personal itu bukan kasus tunggal. Banyak keluarga, tetangga, bahkan sahabat yang menghadapi situasi serupa.
Kini, kita memasuki tahun 2025, di bawah kepemimpinan Bupati Ratu Rachmatuzakiyah dan Wakil Bupati Najib Hamas. Namun problematika klasik ini ternyata masih bercokol.
Pertanyaannya, sampai kapan warga lokal hanya menjadi penonton di tengah gemerlapnya industrialisasi? Sampai kapan Kabupaten Serang harus menyandang predikat sebagai tuan rumah yang tak punya ruang di rumahnya sendiri?
Pemerintah biasanya memiliki “jurus jitu” untuk menekan angka pengangguran. Program pengembangan UMKM, pelatihan keterampilan, hingga program padat karya kerap digulirkan.
Namun, kita perlu jujur mengakui: sering kali program itu hanya berhenti pada tahap sosialisasi, seminar, atau seremoni belaka. Publik menyaksikan peresmian, pemotongan pita, atau pelatihan singkat, tetapi dampaknya terhadap kehidupan nyata masyarakat hampir tak terasa.
Di titik inilah tantangan terbesar bagi kepemimpinan Zakiyah–Najib. Publik menanti apakah pasangan ini mampu mematahkan tradisi seremoni yang berkepanjangan, lalu benar-benar menghadirkan solusi nyata.
Apakah mereka berani menuntut komitmen perusahaan untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal? Apakah mereka mampu membangun ekosistem ekonomi yang berpihak pada warga Kabupaten Serang, bukan sekadar mengulang kebijakan lama yang terbukti stagnan?
Ulang tahun ke-499 seharusnya menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang daerah ini akan sia-sia jika warganya terus tertinggal dari geliat pembangunan.
Kabupaten Serang tidak hanya membutuhkan acara perayaan, tetapi juga gebrakan kebijakan. Tidak cukup dengan doa dan harapan, tetapi perlu langkah konkret yang menembus kebuntuan bertahun-tahun.
Sebagai warga yang pernah tinggal dan masih beraktivitas di wilayah serang, saya tentu berharap pemerintah daerah memiliki formula baru yang lebih berani, lebih tegas, dan lebih berpihak. Karena sangat miris rasanya, ketika di tanah kelahiran sendiri, begitu banyak anak muda yang berpendidikan, bersemangat, tetapi tetap menganggur.
Dan lebih menyedihkan lagi, ketika potensi besar daerah ini tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya.
Serang memasuki usia 499 tahun. Sebuah usia yang matang. Tetapi kedewasaan sebuah daerah tidak hanya diukur dari panjang usianya, melainkan dari keberaniannya menghadirkan perubahan nyata bagi rakyatnya.
Pertanyaannya kini, apakah ulang tahun ini akan menjadi tonggak lahirnya perubahan, atau sekadar perayaan seremonial lain yang akan segera dilupakan?




Discussion about this post