SERANG, BANPOS – Sejumlah mahasiswa dari berbagai macam kelompok menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk kritik pembangunan di Provinsi Banten. Dalam demonstrasi itu, para mahasiswa berorasi secara bergantian menuntut berbagai permasalahan di Provinsi Banten untuk segera diselesaikan.
Aksi demonstrasi para mahasiswa itu digelar di depan gedung DPRD Provinsi Banten. Berdasarkan pantauan BANPOS, para mahasiswa juga membakar beberapa ban, bahkan kerap terjadi adu mulut serta saling dorong dengan pihak kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya aksi demonstrasi tersebut.
Ditemui di tengah aksi demonstrasi, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Serang, Dadang Suzana, menilai selama 25 tahun Provinsi Banten berdiri, kebijakan pembangunan di Banten masih belum menyentuh pemerataan kesejahteraan.
“Pembangunan hanya berfokus pada infrastruktur fisik, namun tidak menyelesaikan masalah pengangguran, kemiskinan, dan pendidikan. Banten bahkan masuk 4 besar provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia,” katanya, Sabtu (4/10).
GMNI juga menyinggung lemahnya kinerja DPRD Provinsi Banten, meski jumlah kursi legislatif sudah bertambah seiring peningkatan jumlah penduduk.
Dadang menyampaikan, hingga kini masih ada beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang masih diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt), yang berpotensi menghambat pelayanan publik dan kinerja pemerintahan.
“Mereka hanya duduk manis, beruncang-uncang. Padahal, dengan jumlah kursi dan anggaran yang meningkat, semestinya ada perubahan nyata,” ucapnya.
Dadang menyindir dengan menyebut bahwa di usia Banten yang genap 25 tahun arah pembangunannya ‘melehoy’ atau melempem yang berarti lemah atau tidak bergerak signifikan.
“Tagline ‘Banten Melehoy’ adalah sindiran. Karena selama 25 tahun ini, pemerintah seolah tidak menjalankan kewajibannya sebagaimana mestinya,” tegasnya.(*)

Discussion about this post