JAKARTA, BANPOS – Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi mendukung Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang mengajukan proposal perdamaian untuk menghentikan perang antara Israel dan Hamas, di Gaza, Palestina.
Proposal perdamaian tersebut berawal dari pertemuan Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih, Amerika Serikat, Senin (29/9/2025). Pertemuan membahas solusi perdamaian Israel-Palestina setelah sejumlah pemimpin Barat mengakui kedaulatan Palestina.
Setelah hampir dua jam pertemuan, Trump dan Netanyahu kemudian menggelar konferensi pers tanpa sesi tanya jawab dengan jurnalis. Ke duanya ingin menyampaikan kabar baik terkait hubungan Israel dan Palestina.
Trump menyampaikan bahwa saat ini negaranya menawarkan proposal perjanjian perdamaian untuk mengakhiri konflik perang di Gaza, Palestina. Keputusan ini, didasari oleh keberanian sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Prabowo Subianto yang lantang mendukung perdamaian di Gaza dan kawasan Timur Tengah. Trump bahkan memuji Prabowo sebagai pemimpin Asia yang berperan aktif mencarikan jalan damai bagi Israel-Palestina.
Trump menjelaskan bahwa proposal perjanjian perdamaian tersebut memuat 20 poin. Beberapa di antaranya mencakup gencatan senjata, pembebasan sandera oleh Hamas dalam waktu 72 jam, pelucutan senjata Hamas, hingga penarikan pasukan Israel secara bertahap.
Selanjutnya, otoritas transisi pascaperang akan dibentuk di Gaza dengan pengawasan internasional, termasuk oleh Trump sendiri. “Semua sandera Israel, baik yang masih hidup maupun meninggal, harus dikembalikan oleh Hamas dalam waktu 72 jam setelah perjanjian diteken,” kata Trump.
Trump berharap Hamas dapat menyetujui proposal tersebut. Bila setuju, kata dia, Hamas tidak lagi diperbolehkan terlibat dalam dinamika politik dan keamanan Gaza. Selain itu, otoritas Palestina di Tepi Barat yang dinilai gagal karena membiarkan adanya intervensi Hamas harus digantikan oleh sosok baru.
Untuk menyukseskan misi ini, Trump berharap para pemimpin negara Arab dan Muslim, termasuk Presiden Prabowo, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohamed bin Zayed Al Nahyan, dapat melobi Hamas agar menyetujui 20 poin tersebut.
Mendengar pernyataan Trump, sejumlah negara mengatakan dukungan. Menteri Luar Negeri dari Yordania, UEA, Indonesia, Pakistan, Turki, Arab Saudi, Qatar, dan Mesir menilai langkah yang ditempuh Trump merupakan upaya tulus yang bisa membuka jalan menuju perdamaian.
Dalam pernyataan bersama, para menteri menegaskan pentingnya kemitraan dengan AS dalam mengamankan perdamaian di kawasan.
Mereka menyambut baik pengumuman Trump yang berisi komitmen untuk mengakhiri perang, membangun kembali Gaza, mencegah penggusuran rakyat Palestina, dan memajukan perdamaian yang komprehensif. “Mereka juga mencatat sikap Presiden Trump yang menolak aneksasi Tepi Barat sebagai langkah penting menjaga peluang bagi perdamaian yang berkelanjutan,” demikian bunyi pernyataan bersama.
Para menteri juga menekankan kesiapan mereka untuk terlibat secara positif dan konstruktif bersama AS dan seluruh pihak terkait, guna menyelesaikan perjanjian damai serta memastikan pelaksanaannya berjalan efektif. Upaya itu dipandang krusial untuk menjamin perdamaian, keamanan, dan stabilitas bagi rakyat di kawasan.
Lebih jauh, para menteri menegaskan kembali komitmen bersama untuk mengakhiri perang di Gaza melalui kesepakatan komprehensif yang mencakup pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, pencegahan pemindahan paksa warga Palestina, pembebasan sandera, dan pembentukan mekanisme keamanan yang mampu menjamin keselamatan semua pihak.
Kesepakatan itu diharapkan dapat mengarah pada penarikan pasukan Israel, percepatan rekonstruksi Gaza, dan terciptanya jalan perdamaian yang adil melalui solusi dua negara. “Di mana Gaza terintegrasi sepenuhnya dengan Tepi Barat dalam kerangka negara Palestina yang sah sesuai hukum internasional,” tutup pernyataan bersama.
Lalu, apa tanggapan Israel? PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dukungan penuh terhadap rencana yang diusulkan Trump. “Saya mendukung rencana Anda untuk mengakhiri perang di Gaza yang sesuai dengan tujuan Israel,” kata Netanyahu.
Netanyahu menegaskan, jika Hamas menolak atau menentang rencana tersebut, Israel tidak akan ragu mengambil langkah tegas.
“Jika Hamas menolak rencana ini, atau tampak setuju, tapi kemudian melawannya, Israel akan menyelesaikan tugasnya sendiri,” ujarnya.
Kelompok Hamas mengaku telah menerima dokumen proposal Trump dari pemimpin negara yang bertindak sebagai mediator perdamaian Israel-Palestina. Hamas menegaskan akan meninjau proposal itu.
“Para negosiator Hamas mengatakan mereka akan meninjaunya dengan itikad baik dan memberikan tanggapan,” kata seorang pejabat Hamas seperti dikutip dari kantor berita Reuters.
Reaksi berbeda muncul dari Gaza yang kini porak-poranda. Warga setempat mengekspresikan skeptisisme terhadap rencana Trump yang disebut berupaya mengakhiri perang.
“Kami sebagai rakyat tidak akan menerima lelucon ini,” ujar warga Gaza, Abu Mazen Nassa (52).(*)

Discussion about this post