SERANG, BANPOS – Sungai Cibanten yang sejak masa lalu menjadi urat nadi sejarah Banten, kini kembali diangkat melalui program Sasaka Cibanten 2025 yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII. Kegiatan ini digelar sepanjang Oktober di titik hulu, tengah, hingga hilir Sungai Cibanten.
Kepala BPK Wilayah VIII, Lita Rahmiati, mengatakan Sasaka Cibanten hadir sebagai ruang kolektif yang menghubungkan sejarah, ekologi, dan kreativitas.
“Sasaka Cibanten adalah wujud komitmen kita untuk merawat warisan budaya sekaligus menjawab tantangan zaman. Melalui kegiatan ini, kami berharap generasi muda tidak hanya mengenal Sungai Cibanten sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk merancang masa depan kebudayaan Banten yang berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima BANPOS pada Selasa (30/9).
Mengusung tema besar “Naritis Cai, Mapag Kabantenan” (air menetes, air mengalir, air menyatukan), kegiatan ini tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ajakan untuk menjaga kelestarian ekologi serta meneguhkan identitas budaya Banten.
Dalam rangkaian acara, salah satu yang menarik perhatian adalah prosesi Ngundeur Cai atau mengambil air. Tradisi ini diadaptasi dari ritual masyarakat Ciomas saat melakukan penjamasan pusaka menggunakan sumber mata air Sungai Cibanten. Prosesi tersebut melambangkan keterhubungan manusia dengan alam dan menjadi simbol kembalinya masyarakat pada sungai sebagai sumber kehidupan.
Sasaka Cibanten akan berlangsung dalam tiga rangkaian acara. Dimulai dari hulu Sungai Cibanten di Titik Nol pada 4–5 Oktober, berlanjut di kawasan tengah seperti Gedung Juang, Banten Girang, Umah Kaujon, dan Jembatan Kaujon pada 11–12 Oktober, lalu ditutup di hilir pada 25–26 Oktober di Benteng Speelwijk, Keraton Kaibon, dan Vihara Avalokitesvara, Banten Lama.
Beragam kegiatan akan meramaikan acara ini, mulai dari pertunjukan seni, pameran, seminar, walking tour, hingga lomba dan aksi konservasi sungai. Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah pihak, termasuk Kantor Bahasa Kemendikdasmen, Pemerintah Provinsi Banten, Pemkab Serang, Pemkot Serang, Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Serang, komunitas, seniman, budayawan, serta masyarakat sekitar.
“Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran ekologis sekaligus merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap Sungai Cibanten sebagai bagian penting dari sejarah dan kebudayaan Banten,” tandasnya. (*)



Discussion about this post