JAKARTA, BANPOS – Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Senin (29/9/2025) pagi ini dibuka menguat 0,54 persen ke posisi Rp 16.648 per dolar AS, dibandingkan penutupan Jumat (26/9/2025) di level Rp 16.738 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia pagi ini tercatat bervariasi. Yen Jepang naik 0,27 persen, dolar Singapura menguat 0,11 persen, dolar Taiwan naik 0,35 persen, won Korea Selatan menguat 0,49 persen, yuan China naik 0,15 persen, ringgit Malaysia menguat 0,20 persen, dan baht Thailand naik 0,04 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong melemah 0,01 persen dan rupee India terkoreksi 0,05 persen.
Indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah 0,18 persen ke level 97,64. Rupiah juga menguat terhadap poundsterling Inggris 0,23 persen ke Rp 22.451, serta terhadap dolar Australia 0,16 persen ke Rp 10.959. Namun, rupiah melemah terhadap euro sebesar 0,38 persen ke level Rp 19.273.
Analis mata uang Lukman Leong menilai penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan dolar AS usai rilis data inflasi Amerika Serikat yang sesuai perkiraan pasar. Kondisi ini, menurutnya, membuka peluang bagi bank sentral AS (The Fed) untuk memangkas suku bunga.
“Hal ini membuka peluang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga. Sementara itu, indeks dolar AS juga tertekan oleh sentimen konsumen yang di luar dugaan direvisi lebih rendah,” kata Lukman, Senin (29/9/2025).
Dengan perkembangan tersebut, rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp 16.650–Rp 16.750 per dolar AS sepanjang hari ini. (*)

Discussion about this post