JAKARTA, BANPOS – Kamis siang itu, suasana di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, terasa berbeda. Di lantai 7, dua organisasi pers tertua dan terpenting di negeri ini kembali duduk bersama: Dewan Pers dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Namun kali ini bukan untuk rapat formal, melainkan sebuah momen yang sarat makna: PWI resmi kembali menempati sekretariatnya di lantai 4 gedung itu.
Prosesi sederhana tapi hangat mengawali acara. Setelah silaturahmi, Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menyerahkan kunci ruang kantor kepada Ketua Umum PWI, Akhmad Munir. Kunci itu bukan sekadar benda kecil dari logam, tetapi simbol kembalinya PWI ke “rumah lamanya” setelah beberapa waktu meninggalkan gedung yang menjadi ikon kehidupan pers Indonesia. “Kalau dibiarkan kosong, lantai 4 seperti ruang horor,” kata Komaruddin berseloroh, disambut tawa hadirin. Baginya, kosongnya ruangan itu bukan hanya soal fisik, tapi juga kehilangan denyut kehidupan pers. “Kami lega akhirnya PWI kembali. Semoga segera beraktivitas, melakukan konsolidasi, dan tentu melahirkan wartawan yang kompeten, profesional, dan berintegritas,” tambahnya.
Di sisi lain, Akhmad Munir, Ketua Umum PWI Pusat, menyebut momen ini sebagai “hari penting” bagi organisasi yang berdiri sejak 1946 itu. “Kami keluarga besar PWI berterima kasih kepada Dewan Pers. Dengan adanya kantor ini, kami bisa kembali melaksanakan program kerja, dari konsolidasi organisasi, penyelesaian dualisme, verifikasi kartu PWI, hingga penyempurnaan PD/PRT,” ujarnya.
Munir yang juga Direktur LKBN Antara menekankan, keberadaan PWI di lantai 4 bukan hanya tentang fasilitas kantor. Lebih dari itu, ini momentum untuk meneguhkan peran PWI dalam meningkatkan kualitas pers nasional. “Kami ingin memperkuat kontribusi pada ekosistem pers yang sehat dan berintegritas. Karena itu, pendidikan dan pelatihan jurnalistik harus kembali diperkuat,” tegasnya.
Sementara itu, Rian Nopandra, Ketua PWI Banten, menyebut bahwa lantai 4 Gedung Dewan Pers punya makna tersendiri. Ruang itu, kata dia, merupakan pusat aktivitas, tempat rapat, diskusi, bahkan perdebatan panjang soal arah pers Indonesia. “Saat ruang itu lama dibiarkan kosong, seakan ada bagian dari denyut pers yang ikut hilang,” ucapnya.
Menurutnya, ruangan yang dulu sunyi itu kini siap kembali hidup dengan agenda-agenda PWI. Dari Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Sekolah Jurnalistik Indonesia, hingga berbagai pelatihan di daerah, semuanya akan bermuara di sekretariat baru ini. Kunci yang diserahkan Dewan Pers hari itu mungkin kecil, namun tambah Rian, membuka pintu besar, pintu untuk konsolidasi, regenerasi, dan penguatan profesi wartawan di tengah tantangan era digital. “Dengan kembali berkantor di sana, PWI harus bisa membuktikan diri. Bukan sekadar menempati ruang, tapi memberi nyawa, memberi kontribusi nyata bagi dunia pers,” ujarnya. (PAY)










Discussion about this post