JAKARTA, BANPOS – Presiden Prabowo Subianto tampil memukau saat pidato di Sidang Majelis Umum ke-80 PBB, Amerika Serikat, Selasa (23/9/2025). Dengan pidato berapi-api, Prabowo panen tepuk tangan dari delegasi peserta sidang. Dalam pidatonya, berkali-kali Prabowo serukan perdamaian dan mendukung tercapainya prinsip Solusi Dua Negara (Two-State Solution) antara Israel dan Palestina.
Prabowo tiba di ruang sidang pukul 19.52 WIB. Mengenakan setelan jas biru gelap, dasi biru, peci, dan pin merah putih, Prabowo melangkah tenang menuju area yang telah dipenuhi para delegasi dari berbagai negara anggota.
Sesaat setelah memasuki ruangan, Prabowo menempati kursi yang diperuntukkan bagi delegasi Indonesia di sisi kanan dari arah panggung. Prabowo didampingi sejumlah pejabat negara, antara lain Menteri Luar Negeri Sugiono, Duta Besar RI untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, dan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai.
Turut hadir Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, putra sulung Prabowo Didit Hediprasetyo, dan Wakil Tetap RI untuk PBB di New York Umar Hadi.
Prabowo menyampaikan pidato pada sesi ketiga setelah Presiden Brazil Luiz Lula Da Silva dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sebelum berpidato, ruang sidang sempat tidak tertib. Para delegasi banyak yang berdiri dan berjalan-jalan.
Pemicunya karena pidato Trump yang makan waktu hingga 1 jam. Kemungkinan, para delegasi bosan mendengar pidato Trump hingga harus keluar ruang sidang untuk beristirahat sejenak.
Untuk menenangkan suasana, seorang perempuan berulang kali membunyikan lonceng. Dia berjalan ke kanan dan kiri, coba menertibkan ruangan. Moderator melalui speaker berkali-kali menenangkan delegasi. Butuh waktu 7 menit untuk membuat suasana kembali tertib. Barulah moderator mempersilakan Prabowo untuk maju ke podium menyampaikan pidato.
Gemuruh tepuk tangan saat nama Prabowo disebut. Sejumlah delegasi yang sebelumnya keluar saat Trump berpidato, kembali memasuki ruangan. Semua mata tertuju pada panggung besar, tempat Prabowo berdiri.
Mengawali pidatonya, Prabowo menyapa sejumlah petinggi di PBB seperti Sekjen Antonio Gutteres dan Presiden Majelis Umum PBB Annalena Baerbock dilanjutkan dengan penghormatan kepada seluruh delegasi yang hadir. Nada bicaranya teratur dengan intonasi yang berubah-ubah. Tangan kanannya, tak henti-hentinya naik turun mengikuti irama pidato.
Pada menit-menit awal, Prabowo menyinggung tentang sejarah penjajahan. Termasuk pengalaman panjang Indonesia sebagai bangsa yang pernah dijajah. Prabowo bilang, tidak enak hidup sebagai negara yang dijajah. Tidak mendapatkan keadilan, dihina, dimiskinkan, dan tidak mendapatkan kesempatan yang setara.
“Tapi kami juga tahu kekuatan solidaritas dalam perjuangan kami untuk meraih kemerdekaan, dalam melawan kelaparan, penyakit, dan kemiskinan,” ujar Prabowo.
Eks Danjen Kopassus itu kemudian menyinggung peran PBB. Berbeda dengan Trump, Prabowo justru memuji tentang kehadiran dan peran PBB. Menurutnya, PBB berperan besar dalam melawan ketidakadilan, melahirkan perdamaian, dan menciptakan keamanan di dunia.
“PBB ada untuk menolak doktrin yang kuat melakukan apa yang mereka bisa. PBB ada untuk menolaknya. Kekuatan bukanlah kebenaran. Hanya kebenaranlah yang benar,” tegasnya.
Puncak perhatian hadirin saat Prabowo menyinggung tentang Palestina. Prabowo menekankan bahwa perjuangan Palestina bukan sekadar isu regional, melainkan persoalan kemanusiaan dan prinsip dasar hak negara berdaulat.
Dunia, kata Prabowo, harus memiliki Palestina yang merdeka, tapi kita juga harus mengakui, menghormati, menjamin keselamatan dan keamanan Israel. “Hanya dengan demikianlah kita dapat memiliki perdamaian sejati, kedamaian sejati, dan tidak ada lagi kebencian, dan tidak ada lagi kecurigaan,” tegas Prabowo, sembari menunjukkan wajah serius. (*)

Discussion about this post