JAKARTA, BANPOS – Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan, industri makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia.
Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan dalam kegiatan factory tour ke PT Nutricia Indonesia Sejahtera, Jakarta, Selasa (24/9/2025), yang menjadi bagian dari rangkaian Industrial Festival 2025 di ICE BSD Tangerang pada 25–28 September 2025.
“Industri makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung sumber daya alam berlimpah dan permintaan domestik yang terus meningkat,” ujar Wamenperin.
Menurutnya, PDB industri makanan dan minuman tumbuh 6,15 persen pada triwulan II-2025, melampaui pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas yang naik 5,6 persen dan PDB nasional sebesar 5,12 persen. Pada periode yang sama, subsektor mamin berkontribusi 41 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
Di sisi ekspor, kinerja industri mamin hingga Juni 2025 tercatat mencapai 23,05 miliar dolar AS atau 21,57 persen dari total ekspor industri pengolahan nonmigas sebesar 106,84 miliar dolar AS. Sementara itu, investasi di sektor ini menembus Rp 53,17 triliun pada triwulan II-2025, terdiri atas PMA 1,14 miliar dolar AS dan PMDN Rp34,19 triliun.
Meski mencatat pertumbuhan positif, Wamenperin menyoroti rendahnya konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia yang masih 16,1 liter per tahun, lebih rendah dibanding negara ASEAN lain seperti Malaysia (50,9 liter), Singapura (46,1 liter), dan Vietnam (20,1 liter).
“Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh tingginya intoleransi laktosa pada anak, sehingga diperlukan inovasi produk untuk mendukung tumbuh kembang generasi muda,” jelasnya.
Ia memberikan apresiasi kepada PT Nutricia Indonesia Sejahtera yang selama 38 tahun beroperasi tetap berkomitmen berinvestasi di Indonesia, menciptakan lapangan kerja, serta menghadirkan produk bergizi dan aman bagi konsumen, khususnya ibu dan anak.
“Nutricia diharapkan terus mendukung serapan susu segar dalam negeri sekaligus berperan aktif menekan impor bahan baku susu yang saat ini masih 80 persen dari kebutuhan nasional,” tambahnya.
Melalui kunjungan ini, para peserta dapat melihat langsung proses produksi dan inovasi industri pangan, serta diharapkan menghasilkan konten kreatif yang memperkuat citra positif produk nasional.
“Mari bersama-sama menggunakan produk Indonesia,” pungkas Wamenperin. (*)

Discussion about this post