JAKARTA, BANPOS – Prabowo Subianto berjalan dengan langkah yang mantap. Tegap. Penuh wibawa. Peci hitamnya kontras dengan jas resmi yang dikenakan. Itu bukan sekadar aksesori, melainkan simbol identitas. Identitas Indonesia.
Saat tiba gilirannya berbicara di podium Majelis Umum PBB, semua mata tertuju. Bukan sekadar karena ia Presiden Indonesia yang baru beberapa bulan dilantik.
Tetapi karena orang ingin tahu: apa yang akan ia katakan tentang Palestina?
Dan Prabowo tidak mengecewakan.
Bahasa Inggrisnya jelas, fasih, dan lugas. Kalimat-kalimatnya tegas. Tanpa basa-basi. Inilah Presiden dari 280 juta rakyat Indonesia, seorang orator kelas dunia yang membuktikan kemampuannya bicara di forum internasional. Tidak ada kata yang bertele-tele. Semua tepat sasaran.
“Only the two-state solution will lead to peace. We must guarantee statehood for Palestine. But Indonesia also declares: once Israel recognizes the independence of the State of Palestine, Indonesia will immediately recognize the State of Israel. And we will support all guarantees for the security of Israel.”
Kalimat itu meluncur, lantang.
Dan… hening sesaat.
Lalu bergemuruh. Tepuk tangan panjang dari para pemimpin dunia yang hadir di forum PBB itu. Semua memberi tepuk tangan penghormatan. Bukan hanya untuk isi pidato, tapi juga untuk keberanian politik yang jarang terdengar dari seorang pemimpin dunia.
Prabowo tidak sedang bicara sebagai Presiden Indonesia saja. Ia bicara sebagai suara nurani umat manusia. Mengutuk kekerasan. Menolak bencana kemanusiaan di Gaza. Menyodorkan solusi yang tidak hanya ideal, tapi realistis.
Dunia tahu, mendukung Palestina bukan hal baru bagi Indonesia. Itu amanat konstitusi. Tapi cara Prabowo menyampaikannya, tegas, berani, dengan jaminan untuk Israel sekaligus, membuat forum itu terperangah. Tidak ada pemimpin yang sebelumnya berbicara seperti itu.
Prabowo berhasil membawa energi persatuan. Ia menyentuh hati mereka yang mendukung Palestina. Ia juga membuka pintu dialog dengan mereka yang khawatir pada keamanan Israel. Itu keseimbangan yang rumit. Tetapi Prabowo berhasil meramunya dalam satu pidato yang memiliki pesan kuat, tajam, dan bersejarah.
Banyak yang bilang, momen itu akan tercatat dalam sejarah diplomasi dunia. Bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pengikut, melainkan penggerak.
Dan di panggung PBB ini, seorang Presiden berpeci hitam telah mengajarkan: diplomasi yang paling kuat adalah diplomasi yang lahir dari nurani.
Pidato selesai. Dunia terdiam. Lalu bertepuk tangan. Lama.
Dan di ruang sidang umum PBB yang megah itu, Indonesia kembali menorehkan sejarahnya. (*)

Discussion about this post