CILEGON, BANPOS – Isu pergeseran jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon kembali ramai diperbincangkan di lingkungan Pemkot Cilegon.
Hal ini mencuat setelah Sekda Maman Mauludin ikut serta dalam uji kompetensi wawancara yang digelar Panitia Seleksi (Pansel) Rotasi Mutasi Pejabat Eselon II.
Menanggapi hal itu, Guru Besar Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Prof. Suwaib Amiruddin, menilai Walikota dan Wakil Walikota Cilegon sebaiknya mengambil langkah dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan.
Apalagi, masa jabatan Maman tinggal delapan bulan sebelum pensiun.
“Harus tetap saja dulu, ini delapan bulan kan persiapan pensiun. Menurut saya, Walikota dan Wakil Walikota mengambil kebijaksanaan strategis, bukan sekadar kebijakan, untuk melanjutkan Pak Sekda ini sampai pensiun dan diberhentikan oleh negara,” kata Suwaib pekan lalu..
Suwaib menegaskan, penghargaan terhadap pengabdian Maman yang sudah lebih dari empat tahun menjabat Sekda sebaiknya diwujudkan dengan membiarkannya menyelesaikan masa tugas hingga pensiun.
“Pak Walikota harus melihat, Sekda ini sudah mengabdi lama sebagai PNS. Jadi penghargaan tertinggi birokrasi yang sudah bekerja, ya biarkan beliau sampai pensiun. Apalagi selama ini sebagai pembina birokrasi, beliau berjalan baik,” ujarnya.
Menurut Suwaib, dalam pendekatan sosiologis, kebijaksanaan berbeda dengan kebijakan. Kebijaksanaan lebih menekankan sisi kemanusiaan, terlepas dari berbagai kekurangan seorang pejabat dalam menjalankan tugasnya.
“Apalagi beliau mau pensiun, sudah bekerja keras, sudah solid dengan birokrasi. Jadi menurut saya, Walikota jangan membawa ini ke ranah politik praktis, tetapi melihatnya dari sisi kemanusiaan,” ucapnya.
Lebih jauh, Suwaib menyebut pengambilan kebijaksanaan strategis dalam birokrasi merupakan hal yang lumrah, selama pejabat yang bersangkutan tidak melakukan pelanggaran.
“Kalau kebijakan itu lebih ke tata aturan. Tapi kebijaksanaan memberi ruang kemanusiaan. Lagi pula, Pak Sekda tidak ada pelanggaran yang mengharuskannya diberhentikan. Ini unggal delapan bulan, bahkan mungkin di menit terakhir beliau akan bekerja lebih keras,” ungkapnya.
Terkait dugaan kursi Sekda akan dikosongkan melalui uji kompetensi, Suwaib tidak melihat adanya indikasi tersebut.
Ia menilai langkah wawancara yang dijalani Maman justru bisa dimaknai sebagai penguatan komitmen dalam jabatannya.
“Sampai sekarang saya belum membaca arahnya ke sana. Mungkin wawancara ini bukan untuk memberhentikan, melainkan justru untuk memperkuat komitmen beliau sebagai Sekda,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, Proses uji kompetensi pejabat eselon Il untuk rotasi dan mutasi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Kota Cilegon memasuki tahap akhir wawancara.
Dari total 29 peserta yang dijadwalkan, satu nama yang menjadi sorotan adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon, Maman Mauludin, yang tidak hadir dalam agenda tersebut.
Ketua Panitia Seleksi (Pansel), Syaiful Bahri, menjelaskan wawancara berlangsung selama tiga hari dengan pembagian 10 peserta di hari pertama, 12 peserta di hari kedua, dan 7 peserta di hari terakhir, Rabu (17/ 9).
Hingga pukul 17.30 WIB, enam peserta hari terakhir hadir, termasuk Asda III Syafrudin; Kepala Disporapar, Sakri Jasiman; Kepala DLH, Sabri Mahyudin; Kepala BPBD, Suhendi; Kepala DKPP, M Ridwan; serta Kepala Kesbangpol, Sri Widayati.
“Nama terakhir yang dijadwalkan sebenarnya adalah Haji Maman Mauludin. Namun sampai detik ini, anda sendiri bisa melihat, beliau tidak hadir,” ujar Syaiful di Gedung Assessment Centre BKPSDM Kota Cilegon. (*)



Discussion about this post