SERANG, BANPOS – Semarak Budaya kembali menggema di Kabupaten Serang. Saresehan Pelajar Utara bertajuk “Pelajar Berbudaya, Berkarakter, dan Berdampak” yang digelar di Aula Perguruan Darul Arqom, Kecamatan Pontang, Sabtu (20/9), menghadirkan diskusi hangat seputar pelestarian bahasa dan budaya lokal, khususnya Bahasa Jawa Banten.
Koordinator Forum Masyarakat Termajukan (FMT) Kabupaten Serang, Farid Supriyadi, mengingatkan bahwa ancaman kepunahan bahasa daerah nyata adanya. Merujuk data UNESCO, dari sekitar 7.600 bahasa di dunia, satu bahasa hilang setiap dua minggu karena kehilangan penutur aktif. Menurutnya, tantangan terbesar kini adalah berkurangnya minat generasi muda menggunakan bahasa daerah.
“Pelestarian Bahasa Jawa Banten tidak cukup hanya lewat kurikulum muatan lokal. Harus ada dorongan regulasi, seperti peraturan daerah yang membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam aktivitas sehari-hari. Festival bahasa daerah juga perlu diperbanyak agar gerakan ini semakin masif,” tegas Farid.
Dukungan terhadap upaya tersebut juga datang dari Anggota DPR RI Komisi X, Furtasan Ali Yusuf. Ia menilai, Bahasa Jawa Serang (Jaseng) atau dikenal sebagai Bahasa Jawa Banten dialek Serang, merupakan identitas kultural penting bagi masyarakat pesisir utara Banten. Dialek ini, kata dia, digunakan mulai dari Merak hingga Tangerang Utara, dengan perbedaan hanya pada aksen, sementara kosakata tetap sama.
“Bahasa Jawa Banten adalah bahasa ibu masyarakat pesisir. Di era sekarang, keberadaannya justru semakin penting untuk memperkuat identitas budaya Banten,” ujar Furtasan.
Lebih jauh, Furtasan menyoroti kekayaan bahasa Jawa Banten dalam bentuk bebasan atau bahasa halus. Ia menyebut, dalam ragam bahasa ini tidak ditemukan diksi-diksi amarah. Hal itu, menurutnya, menunjukkan karakter masyarakat yang menjunjung kesantunan, kelembutan, serta penghormatan dalam bertutur.
Sementara itu, narasumber lain, Kiai Mannar MAS, menekankan hubungan erat antara agama dan budaya. Menurutnya, agama diturunkan Allah sebagai tata nilai untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, sementara kebudayaan tumbuh dari interaksi manusia dalam masyarakat.
“Kebudayaan harus menjadi alat mencapai tujuan agama, bukan menghambatnya. Secara hukum, budaya bersifat mubah, selama tidak bertentangan dengan tujuan agama,” jelasnya.
Acara semakin hidup dengan penampilan budayawan Oki Khaeri Rojab yang membacakan tiga puisi berbahasa Jawa Serang. Tak ketinggalan, influencer sekaligus penyanyi Jaseng, Agus Tajudin atau yang akrab dikenal Mang Aplent, turut menghibur peserta dengan lagu-lagu berbahasa lokal.
Gelaran Semarak Budaya ini bukan hanya menjadi ruang ekspresi seni dan budaya, tetapi juga momentum refleksi bagi generasi muda untuk menjaga warisan bahasa daerah sebagai identitas sekaligus kekuatan budaya masyarakat Banten. (AZM)

Discussion about this post