CILEGON, BANPOS – Proses uji kompetensi pejabat eselon II untuk rotasi dan mutasi Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Kota Cilegon memasuki tahap akhir wawancara.
Dari total 29 peserta yang dijadwalkan, satu nama yang menjadi sorotan adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon, Maman Mauludin, karena tidak hadir dalam agenda tersebut.
Ketua Panitia Seleksi (Pansel), Syaiful Bahri, menjelaskan wawancara berlangsung selama tiga hari dengan pembagian 10 peserta di hari pertama, 12 peserta di hari kedua, dan 7 peserta di hari terakhir.
Hingga pukul 17.30 WIB, enam peserta hari terakhir hadir, termasuk Asda III Syafrudin; Kepala Disporapar, Sakri Jasiman; Kepala DLH, Sabri Mahyudin; Kepala BPBD, Suhendi; Kepala DKPP, M. Ridwan; serta Kepala Kesbangpol, Sri Widayati.
“Nama terakhir yang dijadwalkan sebenarnya adalah Haji Maman Mauludin. Namun sampai detik ini, anda sendiri bisa melihat, beliau tidak hadir” ujar Syaiful di Gedung Assessment Centre BKPSDM Kota Cilegon, Rabu (17/9).
Syaiful mengungkapkan, sejak Selasa (16/9), ia sudah mendapat informasi lisan dari Maman terkait kemungkinan ketidakhadiran.
Informasi tersebut, kata dia, disampaikan saat dirinya menjadi anggota Pansel dan Maman Mauludin sebagai Ketua Pansel calon Direktur Operasional dan Kepatuhan PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Cilegon Mandiri (BPRS-CM).
“Saya hanya dapat informasi lisan, ‘saya kemungkinan tidak hadir, begitu saja,” katanya menirukan ucapan Sekda.
Menurut aturan, sesi wawancara dibatasi hingga pukul 17.00 WIB. Artinya, ketidakhadiran Sekda otomatis memengaruhi penilaian, khususnya pada aspek wawancara.
“Kalau beliau tidak hadir, ya memengaruhi angka penilaian wawancara. Tapi tidak di rekam jejak,” jelas Syaiful.
Saat ditanya apakah absennya Sekda berkaitan dengan kemungkinan pergeseran jabatan, Syaiful menolak berkomentar.
“Itu bukan kewenangan saya. Tugas Pansel hanya melakukan assessment, bukan soal geser menggeser,” tegasnya.
Pansel dijadwalkan melakukan pleno rekap penilaian pada Kamis (18/ 9).
Namun, ketidakhadiran Sekda ini memunculkan spekulasi baru di internal Pemkot Cilegon. Posisi Sekda yang strategis kerap disebut-sebut menjadi sasaran rotasi atau reposisi politik. (*)



Discussion about this post