SERANG, BANPOS – Universitas Banten Jaya (Unbaja) tengah bersiap menggelar pemilihan rektor periode 2025–2029. Enam nama resmi masuk dalam bursa pencalonan, yakni Assoc. Prof. Dr. Sudaryono, Assoc. Prof. Dr. Al-Bahra, Assoc. Prof. Dr. Anis Masyruroh, Dr. Dadang Herli Saputra, Dr. Toni Anwar Mahmud, dan Dr. Ir. Naufal Afandi. Dari enam kandidat tersebut, tiga di antaranya berstatus kandidat profesor.
Perebutan kursi rektor kali ini kian menarik karena para calon memiliki rekam jejak yang beragam. Sudaryono bukan nama baru, ia pernah menjabat Rektor Unbaja pada periode 2017–2021. Anis Masyruroh sebelumnya juga dipercaya sebagai Wakil Rektor sebelum menempati posisi Dekan Fakultas Teknik.
Sementara itu, Dadang Herli Saputra dikenal sebagai akademisi yang banyak berkecimpung di dunia pendidikan, sekaligus pensiunan perwira menengah kepolisian yang pernah bertugas di Polda Banten.
Nama lain, Toni Anwar Mahmud, memiliki pengalaman di ranah keterbukaan informasi publik. Ia tercatat dua kali menjabat sebagai Komisioner Komisi Informasi Provinsi Banten, yakni periode 2011–2015 dan 2019–2023.
Adapun Al-Bahra serta Naufal Afandi juga masuk dalam bursa, melengkapi daftar enam calon yang siap bersaing memperebutkan kursi orang nomor satu di Unbaja.
Di tengah kontestasi ini, suara alumni mulai mengemuka. Gelar Yoga, alumni Teknik Lingkungan Fakultas Teknik angkatan 2017, secara terbuka menyatakan dukungan kepada Assoc. Prof. Dr. Anis Masyruroh.
“Bu Anis berawal dari dosen Prodi Teknik Lingkungan hingga akhirnya memimpin fakultas. Beliau berhasil mengangkat prodi yang awalnya kurang dikenal menjadi salah satu pilihan publik. Bahkan, pada periode lalu, Prodi Teknik Lingkungan berhasil meraih akreditasi B dari PD-Dikti,” ujarnya.
Menurut Yoga, kepemimpinan Anis tidak hanya berdampak pada institusi, tetapi juga pada kualitas lulusan yang lebih kompetitif di dunia industri dan pemerintahan. Ia pun mengajak mahasiswa dan alumni untuk mendukung Anis maju sebagai rektor.
Namun, tidak semua alumni memiliki pandangan serupa. Syafrawi alias Uchay, alumni Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer 2020 ini menilai peran alumni dalam pemilihan rektor kerap terabaikan.
“Masukan dari alumni sering kali tidak didengar. Pada akhirnya, keputusan ada di tangan yayasan. Rektor hanya menjadi pelengkap, sekadar wayang dalam struktur universitas,” kritiknya.
Uchay menambahkan, dari beberapa kandidat yang maju seharusnya ada yang berani bersikap tegas terhadap kebijakan yayasan yang dianggap memberatkan mahasiswa maupun organisasi kemahasiswaan.
“Dari kreativitas dan ruang gerak mahasiswa, kampus bisa hidup dan mengharumkan nama universitas di mata masyarakat. Maka, sudah sepatutnya mereka didukung, baik secara moral maupun material, bukan justru dibatasi seperti yang terjadi pada kepemimpinan sebelumnya,” ujarnya menegaskan.
Sementara itu, Fatimah, alumni 2021 Program Studi PPKN FKIP, menekankan pentingnya figur rektor yang mampu memberi teladan, termasuk dalam kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang kerap menjadi sorotan mahasiswa.
“Rektor ideal adalah sosok yang memajukan pendidikan tanpa konflik kepentingan, menyejahterakan pegawai, sekaligus mengayomi mahasiswa. Jabatan rektor bukan sekadar kursi kosong yang harus diisi,” tegasnya.
Meski kritis, Fatimah tetap menyimpan harapan. Ia berharap rektor terpilih nantinya lebih humanis dalam membangun komunikasi dengan mahasiswa sehingga tercipta iklim akademik yang sehat dan produktif.
Dukungan, kritik, dan harapan yang mengemuka dari para alumni menegaskan bahwa pemilihan rektor Unbaja bukan sekadar ritual pergantian kepemimpinan. Kontestasi ini akan menentukan arah dan wajah universitas untuk empat tahun mendatang. (*)

Discussion about this post