SERANG, BANPOS – Cara pandang Walikota Serang, Budi Rustandi, terhadap permasalahan Pasar Induk Rau dan cara menyelesaikan permasalahan tersebut, mendapat koreksi dari pedagang.
Hal itu disampaikan oleh salah seorang pedagang, Mansur, yang akrab disapa Cacung. Di awal perbincangan dengan BANPOS, ia mengatakan bahwa Pasar Induk Rau adalah pasar terbesar di Kota Serang.
Menurutnya, sebagai pasar tradisional di tengah Kota Serang, sebelum covid melanda, Pasar Induk Rau bersaing dengan pasar-pasar modern yang bermunculan di Kota Serang, dan berhasil bertahan.
“Sejak tahun 2020, covid menyerang Indonesia, Pasar Rau terdampak. Perdagangan lesu. Para pedagang mengeluh kurangnya pembeli, bahkan tidak ada pembeli,” terang Cacung.
“Kondisi seperti ini berjalan sampai saat ini yaitu tahun 2025. Pemerintah tidak terlihat campur tangan bagaimana untuk menghidupkan kembali pasar kebanggaan Kota Serang ini,” lanjut Cacung
Menurutnya, kehadiran pemerintah hanya saat-saat tertentu saja seperti datang dengan dalih monitoring harga pasar di bulan Ramadan, tidak lebih dari itu.
Meski dinilai jarang terlibat dalam persoalan pasar, Pemkot Serang berencana akan merobohkan bangunan Pasar Induk Rau yang dahulu di bangun oleh BUMN dengan perhitungan umur bangunan yang mencapai 70 Tahun.
“Saat ini baru umur 20 tahun. Tentu rencana ini membuat para pedagang kaget bahkan menolak rencana merobohkan dan membangun kembali Pasar Induk Rau ini,” tegasnya.
Ia memaparkan, hampir lima tahun para pedagang mengeluh karena kecilnya hasil penjualan, bahkan seringkali dalam sehari tidak ada yang laku.
Permasalahan itu ditambah sekitar pasar kumuh, parkir yang tidak tertata, dan banyak hal yang membuat Pasar Induk Rau ini terlihat seperti bengunan yang tidak layak.
Sementara itu, pemberitaan seputar Pasar Induk Rau sering menghiasi surat kabar dan media online. Namun, ia menilai pemerintah seolah-olah menutup mata atas permasalahan yang disajikan dalam pemberitaan.
“Walikota diinformasikan ngotot akan merobohkan dan membangun kembali Pasar Rau ini, bahkan dia menyampaikan ada hasil dari analisis PUPR tentang kekuatan bangunan pasar. Namun kajiannya belum pernah dibuka,” jelasnya.
Lucunya lagi, kata Cacung, Pemkot Serang ngotot membangun ulang pasar itu dengan modal pinjaman.
Ia pun mempertanyakan, mengapa tidak berfikir bangunan ini harus ditata yang lebih rapih, lalu kemudian merenovasi yang memang seharusnya direnovasi.
“Beban para pedagang saat ini sangat tidak sebanding dengan penghasilan penjualannya. Janganlah dihadapkan lagi dengan rencana yang membuat para pedagang marah,” paparnya.
Ia berharap Walikota dapat lebih bijak menyikapi hal ini. Ia yang juga salah satu pedagang di Pasar Rau ini menegaskan untuk tetap menolak rencana pemerintah Kota Serang itu.
Bahkan, ia mengoreksi cara pandang Walikota Serang, terkait persoalan Pasar Induk Rau.
“Membangun sesuatu itu jika belum ada, kalau sudah ada berarti yang harus dilakukan adalah penataan untuk lebih baik dan merenovasi,” tandasnya. (*)





Discussion about this post