LEBAK, BANPOS – Video wawancara seorang murid Sekolah Dasar (SD) viral yang mengaku menjadi korban perundungan atau bullying oknum kepala sekolah di tempatnya belajar. Tak terima anaknya diperlakukan itu orangnya siswa itu langsung mendatangi pihak sekolah.
Video yang berdurasi 2 menit 16 detik memperlihatkan seorang bocah laki-laki yang sedang “diinterogasi” oleh seorang bernada perempuan yang diduga orang tua dari sang anak. Tanya jawab keduanya terkait dugaan perundungan atas dugaan pemalakan.
Pengakuan anak itu, dirinya diminta untuk mengakui atas dugaan pemalakan yang dilakukannya terhadap siswa lainnya. Bahkan, ancaman dari oknum kepsek tersebut akan memenjarakannya jika melakukan pemalakan itu kembali.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, anak tersebut merupakan siswa kelas 2 SD Negeri 2 Selaraja, asal Kampung Sampai Tengah, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Bocah itu berinisial RF (7).
Usai kejadian itu korban diduga mengalami trauma setelah dituduh memalak dan membully siswa kelas 1 oleh pihak sekolah yang terjadi pada Jumat (12/9/2025).
Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, orang tua RF mendatangi pihak sekolah untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
N (27) ibu dari RF mengatakan, bahwa anaknya dituduh memalak siswa kelas 1 perempuan tanpa bukti yang jelas.
“Setiap hari saya menemani anak saya ke sekolah. Mulai dari lapangan, toilet, kantin, selalu saya dampingi. Anak saya mendapat uang jajan Rp10.000 per hari, jadi tidak mungkin dia memalak,” katanya, Senin (15/9/2025).
N juga mengaku, selain anaknya dituduh memalak dan membuli, anaknya tersebut juga sempat mendapatkan ancaman dari pihak sekolah.
“Kepala sekolah bilang kalau anak saya melakukan hal itu lagi katanya ya akan dipenjarakan ke penjarakan anak kecil katanya. Sekarang anak saya sakit dari hari Jumat sore panas sampai sekarang, nyampe detik ini sampai tidak mengikuti UTS,” kata N.
Dia juga menyampaikan, bahwa kasus ini bukan yang pertama kali dialami anaknya. Saat masih kelas 1, justru RF pernah dikeroyok oleh lima siswa lain, termasuk cucu kepala sekolah. Namun, kata N, pihak sekolah tidak mengambil tindakan tegas.
“Katanya setiap pagi jam 07.00 jam 08.00 dipalak katanya gitu. Sedangkan pagi jam 07.00 lewat itu sama saya datang ke sekolahan. Langsung sarapan ke dalam kelas. Langsung sarapan. Udah sarapan langsung ada guru,” tambahnya.
Sementara, Kepala Sekolah SD Negeri 2 Selaraja, Oom Komariah, membantah adanya tekanan kepada siswa. Ia menyebut pihaknya hanya melakukan klarifikasi atas laporan yang diterima dari guru dan orang tua siswa Kelas 1.
“Saya tidak menekan siswa atau orang tua. Kami hanya ingin membentuk karakter siswa menjadi lebih baik. Bahkan pada saat klarifikasi, orang tua kedua belah pihak kami hadirkan,” kata Oom Komariah.
Ia menyebut setelah itu, guru kelas akan melakukan kunjungan rumah (home visit) untuk memastikan kondisi anak sekaligus menindaklanjuti persoalan tersebut. “Kami juga masih memantau dan berkoordinasi dengan guru kelas. Ini musyawarah pertama kali terkait kasus ini,” ujarnya. (*)

Discussion about this post