Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Tangerang Dilanda Krisis Air, Warga Andalkan Bantuan Tangki dan Air Hujan

by Tim Redaksi
September 15, 2025
in PERISTIWA
Tangerang Dilanda Krisis Air, Warga Andalkan Bantuan Tangki dan Air Hujan

BANTUAN: BPBD Kota Tangerang turun tangan mengatasi kurangnya air. ISTIMEWA

TANGERANG, BANPOS – Beberapa hari terakhir sejumlah warga di wilayah Kota Tangerang berjibaku menghadapi krisisnya air bersih. Penyebabnya, terjadi kebocoran pipa milik Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang yang memasok kebutuhan masyarakat di beberapa kecamatan. Akibat insiden tersebut, penyaluran air ke rumah para warga terhenti, khususnya di wilayah Jatiuwung, Periuk, Cibodas, dan Karawaci.

Akibat paling parah dirasakan oleh warga Perumahan Keroncong Permai, Kecamatan Jatiuwung, serta Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk. Ribuan kepala keluarga di wilayah ini sudah hampir satu pekan kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

Baca Juga

BPBD Kota Tangerang Gelar Forum Renja 2027 Perkuat Sinergi Lintas Sektor Demi Ketangguhan Kota

Maret 4, 2026

Penurunan Stunting Jadi Prioritas di Forum Renja Dinkes Kota Tangerang

Maret 4, 2026
Konsistensi Penegakan Perda HUT Kota ke 33 Momentum Pemkot Tangerang Musnahkan Ribuan Botol Miras

Konsistensi Penegakan Perda HUT Kota ke 33 Momentum Pemkot Tangerang Musnahkan Ribuan Botol Miras

Maret 1, 2026
BPBD Kota Tangerang Terjunkan 8 Unit Mobil Damkar dan 50 Personel Padamkan Kebakaran di Benda

BPBD Kota Tangerang Terjunkan 8 Unit Mobil Damkar dan 50 Personel Padamkan Kebakaran di Benda

Februari 26, 2026

Bagi warga yang sehari-hari bergantung sepenuhnya pada PDAM, kondisi ini mengakibatkan aktivitas rumah tangga mandek. Air yang sebelumnya masih mengalir pun sudah dalam keadaan keruh sebelum benar-benar berhenti.

Sulis Setiawati, warga RT 08 RW 03 Perumahan Keroncong Permai, menceritakan bahwa sebanyak 70 kepala keluarga di lingkungannya kini harus mencari alternatif air. Menurutnya, sejak awal minggu lalu, aliran air PDAM yang masuk ke rumah warga sudah dalam kondisi keruh. Hingga akhirnya, dua hari terakhir benar-benar mati total. Minggu, (14/9/2025).

“Air sebelum mati dari PDAM ya sudah keruh, hampir seminggu keruh terus mati. Kemarin masih ada sedikit ngalir, itu pun cuma di keran bawah. Tapi sekarang udah dua hari sama sekali enggak ada yang keluar. Padahal kita butuh air semua, ibu-ibu paling repot, semuanya pakai PDAM. Ini yang paling parah,” ungkap Sulis dengan nada kecewa.

Ia menambahkan, dampak krisis air sangat terasa untuk kehidupan sehari-hari. Urusan mencuci pakaian, kebutuhan anak-anak, hingga sanitasi rumah tangga jadi terganggu. “Ya dampaknya semua lah, buat ibu-ibu nyuci susah. Kita kan punya anak kecil, kalau buang air kecil atau besar kan butuh air. Air itu segalanya,” katanya.

Meskipun begitu, warga tetap berupaya memenuhi kebutuhan dengan berbagai cara. Bantuan air bersih datang dari Disbudpar, BPBD dan juga dari anggota DPRD setempat. Namun, suplai itu belum sepenuhnya mencukupi. Beberapa warga bahkan terpaksa membeli air dari pedagang swasta untuk kebutuhan mendesak.

“Kemarin ada bantuan dari dinas dan dari dewan juga, tapi ada juga bapak-bapak yang beli sendiri buat ngisi tangki, terus dibagiin ke kita secara sukarela. Jadi ya seadanya, enggak semua kebagian banyak,” jelas Sulis.

Sebagai pelanggan PDAM, beberapa warga mengaku kecewa atas kejadian ini. Mereka menilai perusahaan seharusnya lebih cepat tanggap menangani kasus seperti ini, termasuk dengan melakukan survei kualitas air sejak awal akan ada tanda-tanda kerusakan muncul.

“Harusnya PDAM itu survei dari kemarin. Kalau kompensasi, ya paling enggak bulan depan kita jangan disuruh bayar. Toh selama ini kita sudah keluar uang beli air sendiri. Jadi ya kalau bisa bulan ini gratis. Tapi yang lebih penting, ke depan jangan sampai kejadian begini lagi,” tegas Sulis.

Menurutnya, rata-rata warga di Perumahan Keroncong Permai membayar tagihan Perumda Tirta Benteng antara Rp100 ribu hingga Rp160 ribu per bulan, tergantung pemakaian. Namun ironisnya, air yang dibayar justru sering keruh sebelum akhirnya mati.

Tidak hanya mengandalkan bantuan, warga juga berinisiatif menghidupkan kembali sumur dan jetpump yang sudah lama lama tidak terpakai. Ketua RT 02 RW 03, M Sukadi, menegaskan langkah gotong royong ini dilakukan untuk meringankan beban warga yang sudah empat hingga lima hari tidak mendapatkan pasokan air.

“Warga kami selama PDAM mati ini sangat mengharapkan air. Akhirnya kami coba hidupkan kembali jetpump lama yang ada, walaupun debit airnya kecil, tapi lumayan bisa membantu. Sementara untuk kebutuhan besar, ya warga beli atau ngirit-ngirit penggunaan,” jelas Sukadi.

Ia menambahkan, dari 65 kepala keluarga yang dipimpinnya, semua terdampak. Air dari jetpump hanya cukup untuk kebutuhan dasar seperti mandi atau wudu di tempat ibadah.

“Dampaknya besar sekali. Bahkan untuk wudu di masjid pun kesulitan. Untung ada gotong royong hidupkan sumur lama,” tuturnya.

Menurut Sukadi, bantuan air bersih dari tangki sejauh ini datang rata-rata lima kali dalam sehari untuk satu RW. Namun, dengan jumlah warga yang besar, distribusi tetap tidak mencukupi. “Pembagiannya rata, semua dapat, tapi ya tetap terbatas. Biasanya tiap rumah bisa ngisi beberapa galon saja,” katanya.

Warga menyebut kejadian ini merupakan krisis air terparah dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau mati air sih pernah, tapi enggak separah ini. Dulu paling masih ada yang keluar dikit di kran bawah. Sekarang benar-benar enggak ada. Mungkin lima tahun sekali baru kejadian kayak gini,” ujar Sukadi.

Ia berharap Perumda Tirta Benteng segera menyelesaikan perbaikan pipa yang bocor agar aliran air bisa kembali normal. “Namanya air itu kebutuhan pokok. Harusnya PDAM cepat dan tanggap. Seluruh perumahan di sini terdampak, dua kelurahan, dua kecamatan. Jadi jangan lambat,” tegasnya.

Selain mengandalkan bantuan, beberapa warga juga memanfaatkan air hujan yang turun dalam dua hari terakhir.

“Alhamdulillah kemarin sempat hujan, jadi bisa dipakai buat nyuci. Kalau buat bilas ya tetap pakai air bantuan dari tangki. Untung ada hujan, kalau enggak makin susah,” kata Sulis.

Ia mengaku dalam kondisi normal, keluarganya menggunakan air PDAM untuk semua kebutuhan, dari mandi, mencuci, hingga memasak. Namun kini mereka harus berhemat. “Kalau ada bantuan tangki, saya biasanya cuma dapat enam galon. Itu aja enggak cukup buat mandi dan buang air besar/kecil. Kalau buat nyuci ya enggak bisa, kecuali ada air hujan,” ujarnya.

Warga sepakat bahwa masalah ini jangan sampai berulang lagi. Selain kompensasi, warga berharap PDAM melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi. Tidak hanya soal kualitas air yang kerap keruh, tetapi juga soal kesiapan darurat saat terjadi kebocoran atau kerusakan pipa.

“Ya kecewa pasti. Namanya air kalau jelek ya bikin ribet, harus cuci manual, mesin cuci enggak bisa. Harapan kita sih cepat selesai, kasihan warga semuanya,” tutup Sulis.

Krisis air ini menjadi peringatan betapa vitalnya infrastruktur air bersih bagi kehidupan masyarakat. PDAM Kota Tangerang diharapkan segera menyelesaikan perbaikan agar ribuan warga di Keroncong Permai, Gebang Raya, dan wilayah lain yang terdampak bisa kembali menikmati air bersih sebagaimana mestinya. Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi dari pihak Perumda Tirta Benteng. (*)

Source: SATELITNEWS
Tags: Disbudpar Kota TangerangDPRD Kota TangerangGebang RayaKeroncong Permaikota tangerangPerumda Tirta Benteng KotaTangerang Krisis Air

Berita Terkait

PEMERINTAHAN

BPBD Kota Tangerang Gelar Forum Renja 2027 Perkuat Sinergi Lintas Sektor Demi Ketangguhan Kota

Maret 4, 2026
KESEHATAN

Penurunan Stunting Jadi Prioritas di Forum Renja Dinkes Kota Tangerang

Maret 4, 2026
Konsistensi Penegakan Perda HUT Kota ke 33 Momentum Pemkot Tangerang Musnahkan Ribuan Botol Miras
PEMERINTAHAN

Konsistensi Penegakan Perda HUT Kota ke 33 Momentum Pemkot Tangerang Musnahkan Ribuan Botol Miras

Maret 1, 2026
BPBD Kota Tangerang Terjunkan 8 Unit Mobil Damkar dan 50 Personel Padamkan Kebakaran di Benda
PERISTIWA

BPBD Kota Tangerang Terjunkan 8 Unit Mobil Damkar dan 50 Personel Padamkan Kebakaran di Benda

Februari 26, 2026
Ribuan Warga Kota Tangerang Terima BSU Rp600 Ribu Tahap Pertama dari APBD
PEMERINTAHAN

Ribuan Warga Kota Tangerang Terima BSU Rp600 Ribu Tahap Pertama dari APBD

Februari 26, 2026
Dindik Kota Tangerang Terima Penghargaan Opini Ombudsman Pelayanan Publik Sangat Baik
PEMERINTAHAN

Dindik Kota Tangerang Terima Penghargaan Opini Ombudsman Pelayanan Publik Sangat Baik

Februari 21, 2026
Next Post
Menurut BMKG Cuaca di Jakarta Pada 15 Sep Jaksel dan Jaktim Akan Hujan Ringan

Menurut BMKG Cuaca di Jakarta Pada 15 Sep Jaksel dan Jaktim Akan Hujan Ringan

Discussion about this post

  • 315 Followers
  • 1.2k Subscribers
Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh