Banten Pos
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Morning News
No Result
View All Result

Reshuffle ala Prabowo: Politik Puas, Pasar Was-Was

by Tim Redaksi
September 11, 2025
in VOX POPULI
Reshuffle ala Prabowo: Politik Puas, Pasar Was-Was

Penulis : Fajri Maulana
Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia

Reshuffle kabinet merah putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto mencerminkan dorongan kuat untuk mentransformasi komposisi kabinet demi citra pemerintahan yang adaptif dan responsif terhadap tuntutan rakyat.

Ia mampu meletakkan otoritas sebagai kunci dalam menegaskan kebijakan hingga tingkat micro governance.

Baca Juga

Lulu Jamaludin Raih Ekbispar Award 2026, Dinobatkan Jadi Jurnalis Peduli Sosial Kemasyarakatan

Maret 7, 2026

Gubernur Tegaskan Randis Dilarang Dipakai untuk Mudik

Maret 7, 2026

Warga Serang Bayar Pajak Diganjar Hampers Lebaran dari Samsat Kota Serang

Maret 7, 2026

Intervensi Kerentanan Pangan, Pemprov Banten Salurkan Bantuan Beras dan Ayam untuk Ribuan Keluarga

Maret 6, 2026

Di sisi lain, perombakan tersebut mengguncang stabilitas pasar dan kepercayaan investor. Kekuatan finansial bangsa yang dibangun oleh figur-figur teknokratong dihantui kekhawatiran akan kemunduran disiplin fiskal.

Jika tujuan reformasi tidak dirangkul dengan pengamanan ekonomi yang solid, reshuffle justru bisa memperparah ketidakpastian yang sudah memicu keresahan publik.

Reshuffle ini tidak hanya menjadi peristiwa politik domestik, melainkan juga mengguncang persepsi global terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Keputusan mengganti Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang selama ini dipandang sebagai simbol kredibilitas fiskal dan wajah ramah bagi investor internasional, menimbulkan gejolak signifikan di pasar keuangan.

Sri Mulyani dianggap sebagai figur yang mampu menjembatani antara kebutuhan politik nasional dengan ekspektasi pasar global, sehingga kepergiannya seketika memunculkan keraguan tentang konsistensi arah kebijakan fiskal Indonesia.

Pasar bereaksi cepat. Rupiah melemah, indeks saham menurun, dan imbal hasil obligasi pemerintah naik. Investor asing membaca sinyal bahwa risiko berinvestasi di Indonesia meningkat, bukan hanya karena pergantian figur, melainkan karena adanya ketidakpastian terhadap prioritas kebijakan ekonomi pemerintahan baru.

Program-program populis seperti makan gratis, subsidi besar, dan belanja sosial ambisius dinilai berpotensi mengganggu disiplin anggaran. Bagi investor jangka panjang, terutama mereka yang menanamkan modal pada infrastruktur dan sektor strategis, pertanyaan mendasarnya adalah apakah Indonesia masih mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi fiskal dengan stabilitas makroekonomi.

Meski demikian, dampaknya tidak sepenuhnya negatif. Beberapa investor, terutama dari negara-negara yang sudah menjalin kedekatan politik dengan Indonesia, justru melihat peluang. Pergantian ini dapat dimaknai sebagai pintu masuk untuk negosiasi baru, khususnya dalam proyek-proyek besar seperti energi hijau, hilirisasi mineral, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara.

Investor yang lebih dekat dengan orbit geopolitik Presiden Prabowo mungkin mendapat keuntungan dari perubahan ini, karena kebijakan fiskal yang lebih longgar bisa membuka ruang insentif investasi lebih besar.

Namun bagi investor institusional global—seperti lembaga keuangan internasional, hedge fund, dan perusahaan multinasional—perubahan mendadak pada kementerian strategis seperti keuangan menimbulkan dilema. Mereka menuntut kepastian hukum, transparansi fiskal, serta konsistensi kebijakan.

Jika ketiga hal ini tidak segera dipastikan melalui komunikasi resmi pemerintah, maka aliran modal asing jangka pendek bisa keluar, dan minat investasi jangka panjang bisa menurun.

Dalam perspektif geopolitik, ketidakpastian ini juga bisa dimanfaatkan oleh kekuatan besar. China, misalnya, bisa memperdalam penetrasi investasi dengan memanfaatkan kebutuhan Indonesia akan modal cepat untuk menopang program populis.

Sementara negara Barat mungkin akan lebih berhati-hati, sambil menunggu bukti nyata bahwa disiplin fiskal tidak sepenuhnya dikorbankan.

Dengan demikian, reshuffle kabinet kali ini menempatkan Indonesia pada persimpangan penting: antara membuka ruang bagi investasi yang lebih pragmatis tetapi berisiko tinggi, atau menjaga kredibilitas pasar global yang selama ini menjadi sandaran pertumbuhan ekonomi stabil.

ShareTweetSend

Berita Terkait

PERISTIWA

Lulu Jamaludin Raih Ekbispar Award 2026, Dinobatkan Jadi Jurnalis Peduli Sosial Kemasyarakatan

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Gubernur Tegaskan Randis Dilarang Dipakai untuk Mudik

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Warga Serang Bayar Pajak Diganjar Hampers Lebaran dari Samsat Kota Serang

Maret 7, 2026
PEMERINTAHAN

Intervensi Kerentanan Pangan, Pemprov Banten Salurkan Bantuan Beras dan Ayam untuk Ribuan Keluarga

Maret 6, 2026
PEMERINTAHAN

Disnakertrans Pandeglang Bakal Tindaklanjuti Aduan Pekerja Gudang PT Gudang Wings Labuan

Maret 5, 2026
EKONOMI

Muji Rohman Optimis Industri Sawah Luhur Pangkas Pengangguran

Maret 5, 2026
Next Post
Galian Pasir Bikin Rumah Warga Cilegon Bagai Telur di Ujung Tanduk

Galian Pasir Bikin Rumah Warga Cilegon Bagai Telur di Ujung Tanduk

Discussion about this post

Banten Pos

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

Navigasi

  • Redaksi
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PEDOMAN PENGELOLAAN AKUN MEDIA SOSIAL
  • BANTEN POS HARI INI

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • PEMERINTAHAN
  • PERISTIWA
  • HUKRIM
  • POLITIK
  • EKONOMI
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL

© 2025 Banten Pos - Inspirasi dan Semangat Baru Banten.

BANPOS
BANPOS App
Lebih cepat & mudah diakses
Unduh