CILEGON, BANPOS – Aktivitas galian pasir di sekitar lingkungan Curug Kepuh, Kelurahan Bagendung, Kecamatan Cilegon menimbulkan keresahan warga.
Selain menimbulkan kebisingan sejak malam hingga pagi hari, kerukan itu membuat kondisi lingkungan semakin rawan.
Rumah-rumah warga kini tampak berdiri di atas tebing curam akibat penggalian yang terus dilakukan.
Santari, salah seorang warga, mengatakan kerukan itu sudah berlangsung cukup lama.
Ia menuturkan, meski warga sudah melapor kepada ketua RT, belum ada tindak lanjut maupun solusi dari pihak terkait.
“Kita sudah lapor ke Pak RT, ini bagaimana berisik kalau malam sampai pagi. Itu mah usaha, bukan perataan. Wong terus-terusan digali sampai berapa meter,” katanya, (10/9).
Ia menambahkan, seharusnya ada kompensasi untuk warga, tetapi sampai sekarang warga tidak pernah merasakan apa pun.
“Seharusnya ada kompensasi, tapi warga tidak merasa menerima walau sepeser pun. Warga beberapa sudah komplain,” ujarnya.
Dari pantauan warga, pasir hasil galian dibawa keluar kota menggunakan truk berukuran besar.
Namun, aktivitas itu dianggap janggal karena tidak ada alat berat di lokasi.
“Proyek itu juga sudah lama, tapi bingung kok tanah sebelah sini sudah diacak-acak, tapi tidak ada alat beratnya satu pun. Kemungkinan juga belum resmi, kalau resmi pasti warga juga merasa. Ini kan terganggu,” tuturnya.
Dampak lain dari aktivitas tersebut adalah kerusakan sumber air bersih.
Air sumur warga yang sebelumnya jernih kini menjadi keruh akibat getaran dan kedalaman galian.
Kondisi itu sempat memicu aksi protes warga.
“Kemarin sudah didemo, sebab air sumurnya kotor karena kedaleman,” tutur Santari.
Meski area kerukan sudah dipagari, warga menilai upaya itu tidak menjamin keselamatan.
“Mereka sudah mager, kemungkinan yang magerin dari pihak kulinya. Tapi tetap saja pagar itu juga tidak menjamin, ngeri bisa longsor,” tambahnya.
Kondisi lingkungan sekitar terlihat semakin mengkhawatirkan.
Bagian tanah yang digali dalam membuat permukaan semakin curam.
Beberapa rumah warga berada tepat di bibir tebing sehingga terlihat seolah menggantung di atas tanah yang sudah terkikis.
“Sekarang itu rumah-rumah seperti benar-benar di atas tebing. Kalau hujan deras atau galian makin dalam, ngeri bisa longsor. Warga jadi was-was tiap malam,” ucap warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Warga berharap pemerintah turun tangan menertibkan aktivitas tersebut.
Mereka khawatir jika dibiarkan berlarut, kerusakan lingkungan semakin parah dan keselamatan warga terancam.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, mengungkapkan pihaknya akan turun ke lapangan pada Rabu (10/9/2025).
Namun hingga berita ini ditulis dan memantau kondisi di lapangan, belum ada informasi lebih lanjut soal kunjungan DLH ke area tersebut. (*)



Discussion about this post