Oleh Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Di zaman ketika politik menjadi panggung besar dan pejabat menjelma aktor yang sibuk mencari sorotan, kita perlu bertanya ulang: apakah Banten dibangun untuk jadi tontonan? Apakah masyarakat kita hanya diposisikan sebagai penonton pasif dari drama panjang kekuasaan?
Banten tidak butuh pertunjukan. Ia butuh kerja senyap yang berdampak. Ia butuh pemimpin yang rela menanggalkan mikrofon dan mulai berjalan kaki menyusuri desa, memandangi sekolah-sekolah reyot, menjenguk puskesmas sepi obat, dan mendengarkan suara lirih dari relung kumuh perkotaan. Tapi sering kali, yang hadir justru acara potong pita, selfie politik, serta jargon yang indah di baliho tapi kosong di kenyataan.
Etika kepemimpinan para wali terdahulu bertolak belakang dengan budaya panggung hari ini. Maulana Hasanuddin tak pernah menjadikan dakwahnya sebagai arena popularitas. Ia membangun kekuasaan dari mushola kecil, bukan dari studio pencitraan. Syekh Nawawi al-Bantani menulis kitab-kitabnya dalam hening, bukan dalam gegap gempita klaim keberhasilan. Pemimpin sejati memilih jalan sunyi, bukan sorotan kamera.
Spirit sufistik mengajarkan khumul—sikap merendah, tidak ingin menonjol, tidak gila tampil. Para sufi bekerja dalam diam, menyalakan obor dalam gelap, bukan menyalakan kembang api di siang bolong. Kalau semua birokrat ingin jadi bintang, siapa yang rela jadi pelayan? Kalau semua pejabat sibuk berbicara, siapa yang bersedia mendengar? Kalau setiap program harus dipublikasi berlebihan, kapan waktu untuk kontemplasi?
Banten hari ini sedang mencari bentuk setelah berkali-kali diguncang badai korupsi dan disorientasi moral. Saat rakyat mulai lelah dengan gaya elite yang narsistik, inilah saatnya untuk membangun Banten tanpa panggung. Sebuah provinsi yang tidak dibangun di atas narasi palsu, melainkan dari kerja batin dan dedikasi senyap.
Gubernur Andra Soni dan jajarannya bisa memulai babak baru. Alih-alih sibuk mengejar pencitraan, mengapa tidak fokus memperbaiki sistem? Daripada berlomba tampil di media sosial, mengapa tidak menghidupkan kembali tradisi musyawarah dusun, majelis warga, dan forum lintas kampung yang pernah menjadi denyut lokalitas Banten?
Etika sufistik juga menuntut ikhlas—melakukan sesuatu tanpa pamrih pujian. Ikhlas adalah fondasi bangunan sosial yang kuat, jauh lebih kokoh dari popularitas musiman. Dalam Tanbih TQN Suryalaya, diajarkan bahwa amal yang dipamerkan berisiko hilang berkahnya. Pembangunan yang digerakkan demi tepuk tangan, cepat aus dan hampa ruh.
Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan, penyakit pemimpin adalah cinta nama baik, bukan cinta kebenaran. Padahal yang dibutuhkan rakyat bukan pemimpin yang disukai, tapi pemimpin yang bekerja. Yang mereka tunggu bukan kata-kata manis di media, tapi perbaikan jalan desa, ketersediaan air bersih, harga beras yang masuk akal.
Sudah waktunya menggeser orientasi. Bukan lagi “bagaimana tampil mengesankan”, tapi “bagaimana melayani secara nyata”. Bukan lagi sibuk menyusun narasi besar, tapi tekun mengurus hal-hal kecil yang sering diabaikan: akta lahir yang sulit diakses, sertifikasi tanah yang berlarut, dan antrean BPJS yang panjang.
Banten Tanpa Panggung bukan berarti tertutup dari publik, melainkan menolak budaya palsu. Ini ajakan untuk menghapus wajah ganda kekuasaan. Agar birokrasi kembali pada tujuannya: melayani, bukan menjual citra.
Karena dalam kepemimpinan sufistik, semakin dalam seseorang menyatu dengan rakyat, semakin ia tak memerlukan panggung. (*)



Discussion about this post