JAKARTA, BANPOS – Polisi mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan penjagaan sekaligus pengawasan terhadap anak-anak, supaya mereka tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal negatif, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
“Saya mengimbau orang tua agar benar-benar menjaga anaknya, sehingga tidak sampai terhasut dan ikut terlibat dalam tindakan yang merugikan,” ujar Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Polisi Alfian Nurrizal, di Jakarta Timur, Selasa.
Ia menekankan bahwa terpengaruh ajakan buruk bisa membawa dampak kerugian, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Apalagi, generasi muda adalah penerus bangsa yang perlu dijaga masa depannya.
“Itulah sebabnya, jika mereka sampai terseret tindakan merugikan, tentu masa depan bangsa ikut terancam,” tegas Alfian.
Lebih lanjut, ia menambahkan pentingnya menjaga situasi tetap kondusif di Jakarta Timur dengan menumbuhkan semangat kebersamaan.
“Sudah sepatutnya kita berpegang pada tagline Jaga Jakarta, Jaga Aturan, Jaga Amanah, dan Jaga Warga,” tutur Alfian.
Sebagai tindak lanjut, pihak kepolisian bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kota (Forkopimko) Jakarta Timur telah mendeklarasikan sikap menolak anarkisme serta berita bohong (hoaks) pada Senin (1/9). Deklarasi ini diprakarsai oleh Wali Kota Jakarta Timur bersama elemen pemuda, dengan tujuan menjaga keamanan kota agar tetap kondusif.
“Deklarasi tersebut meneguhkan persatuan seluruh warga demi melindungi kedaulatan masyarakat Jakarta Timur,” jelas Alfian.
Senada dengan hal itu, Komandan Kodim 0505/Jakarta Timur, Letkol Inf Nelson Paido Makmur, juga mengingatkan warga agar tidak mudah percaya pada informasi bohong yang dapat merusak lingkungan mereka.
“Setiap narasi yang masuk harus dipikirkan dulu, jangan sampai kita diperdaya oleh pihak-pihak yang ingin menghancurkan wilayah kita,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan sekitar demi keamanan, kenyamanan, dan ketertiban bersama.
“Mari rawat kampung kita, perhatikan lingkungan kita, dan pelihara dengan baik. Kalau sampai kampung kita rusak, justru kita sendiri yang akan kesulitan. Maka dari itu, mari kita jaga kampung kita sesuai dengan tagar dari Pemda DKI, #JagaJakarta,” kata Nelson.
Adapun isi deklarasi tersebut memuat empat poin utama. Pertama, menolak aksi anarkis, vandalisme, serta hoaks dan provokasi negatif. Kedua, menjaga persatuan dan kesatuan antarwarga. Ketiga, berkomitmen melindungi Jakarta Timur dari potensi gangguan keamanan dan ketertiban. Keempat, mengajak seluruh masyarakat untuk mengkampanyekan gerakan Jaga Jakarta.
Seperti diketahui, gelombang demonstrasi yang dimulai sejak Senin (25/8) di Gedung DPR dipicu oleh desakan massa untuk membubarkan parlemen dan menolak sejumlah kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.
Ribuan massa dari berbagai kalangan—mulai dari buruh, pekerja kantoran, hingga pelajar dan mahasiswa—berkumpul di sekitar DPR dan titik-titik lain di Jakarta. Aksi itu kemudian berujung bentrok saat polisi membubarkan massa menggunakan gas air mata, sehingga massa terpencar ke berbagai ruas jalan ibu kota.
Kericuhan kembali pecah pada Kamis (28/8), ketika ribuan buruh berunjuk rasa di Gedung DPR sejak pagi. Menjelang sore, kerusuhan meluas hingga ke Pejompongan dan Jalan Asia Afrika, bersamaan dengan insiden tewasnya seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan (21) yang tertabrak kendaraan taktis Brimob.
Seiring meluasnya aksi, sejumlah oknum tidak bertanggung jawab melakukan perusakan terhadap fasilitas umum, mulai dari pos polisi, rambu lalu lintas, hingga pembatas jalan. Bahkan, beberapa kendaraan ikut dibakar.
Tidak berhenti di situ, aksi penjarahan juga menyasar rumah sejumlah politisi dan tokoh publik, seperti Ahmad Sahroni, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio, Surya Utama alias Uya Kuya, Nafa Urbach, hingga kediaman Menteri Keuangan Sri Mulyani. Barang-barang berharga digasak habis dan tembok rumah mereka turut dicoret-coret. (*)

Discussion about this post