SERANG, BANPOS – Gelombang aksi demonstrasi akan terjadi kembali di Kota Serang. Kali ini, sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi yang terhimpun dalam aliansi ‘Revolusi Rakyat Banten’ akan mengepung Mapolda Banten dan gedung DPRD Banten pada Senin (1/9).
Informasi tersebut diperoleh berdasarkan pamflet yang diterima BANPOS pada Minggu (31/8) malam. Dalam pamflet tersebut, tertera sebuah tulisan seruan kepada masyarakat untuk ikut serta dalam aksi demonstrasi besok.
“SERUAN AKSI !!! DIAM DITINDAS BERGERAK DILINDAS,” tulis seruan dalam pamflet tersebut.
Kemudian dalam pamflet itu tertera, aksi demonstrasi akan dilaksanakan pada Senin (1/9) sekitar pukul 10.00 WIB. Untuk lokasinya dilaksanakan di dua tempat berbeda yakni di Markas Polda Banten dan Gedung DPRD Provinsi Banten.

Saat dikonfirmasi, Koordinator Lapangan (Korlap), Repi Rizali, membenarkan informasi tersebut. Dia memperkirakan ada sekitar 300 mahasiswa yang akan ikut serta dalam aksi tersebut.
“Insyaallah akan ada aksi sesuai di pamflet. Estimasi massa 300 bang,” katanya melalui pesan singkat WhatsApp kepada BANPOS, Minggu (31/8) malam.
Adapun isu yang dibawa dalam aksi itu di antaranya terkait desakan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan penghapusan tunjangan DPR RI yang dinilai tidak sebanding dengan kinerja.
Selain itu, mereka menyoroti perihal represifitas aparat Kepolisian dalam menjalankan tugasnya melakukan pengamanan hingga berujung pada tewasnya warga sipil.
“Kita meminta Polda Banten mengusut tuntas dan mengadili Brimob yang menganiaya jurnalis secara transparan, mengusut tuntas dan mengadili anggota Polda Banten yang diduga melakukan penganiayaan terhadap pelajar,” katanya.
Selain tiga persoalan di atas dalam aksi itu mereka juga mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan konflik agraria yang terjadi di Kabupaten Pandeglang antara petani dengan institusi TNI dan Perum Perhutani.
“Mendesak penyelesaian konflik agraria di Pandeglang, khususnya di Cibaliung antara petani Cibaliung dengan Perum Perhutani dan konflik agraria masyarakat Rancapinang dengan TNI,” ujarnya. (*)







Discussion about this post