JAKARTA, BANPOS – Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia memberikan informasih kepada orang tua bahwa anak berusia 9 bulah sudah bias imunisasi campak, sesuai dengan anjuran Kementerian Kesehatan.
“Imunisasi campak dan rubela MR diberikan pada usia 9 bulan, kemudian diulang dosis kedua pada usia 18 bulan,” kata Ketua Satgas Imunisasi IDAI Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subs.TKPS(K), di Jakarta, Rabu.
Sesuai anjuran kemenkes seorang anak memerlukan tiga dosis vaksin campak. Dosis ketiga akan di berikan kepada anak yng berusia 7 tahun biasanya di lakukan di sekolah saat bulan imunisasi nasional.
Vaksin campak memerlukan diulang untuk membentuk antibody terhadap penyakit. Setelah di beri vaksi, antibodi tubuh semakin meningkat seiring berjalannya waktu.
Ketika diberikan dosis vaksin campak kedua, pembentukan antibodi menjadi jauh lebih cepat sehingga kadar antibodi tubuh akan jauh lebih tinggi dibandingkan saat diberikan dosis pertama.
“Menetapnya antibodi akan jauh lebih panjang dibandingkan satu dosis saja,” ujarnya.
Ketika anak diberikan satu dosis vaksin campak pada usia yang dianjurkan, perlindungan terhadap penyakit mencapai 85 persen. Kemudian, pada dosis kedua, perlindungan meningkat menjadi 95 hingga 97 persen.
“Jadi, luar biasa sekali perlindungannya, jauh lebih tinggi dari perlindungan yang diberikan vaksin COVID-19,” kata dia.
IDAI mengajak kepada orang tua untuk selalu mengecek vaksinasi anak dan memberikan vaksinasi sesuai dengan anjuran Kemenkes. Jika ada vaksinasi yang terlewat, maka anak bisa diberikan vaksinasi dosis berikutnya dan tidak perlu mengulang dari awal.
Menurut Hartono,”Tidak ada vaksin yang hangus”.
Pilek, demam ringan, alergi makanan dan diare bukan halangan yang menyebabkan anak tidak boleh diimunisasi.
ia menjelaskan anak yang tidak boleh diimunisasi adalah anak yang mendapatkan pengobatan kortikosteroid tinggi, misalnya penyakit ginjal bocor dan asma berat; mendapat pengobatan imunosurpresan seperti pada penyakit lupus; demam tinggi; gagal jantung; anemia berat; dan penyakit berat seperti leuekmia.
“Kita obati dulu penyakitnya, baru dilakukan imunisasi,” kata Profesor Hartono. (*)

Discussion about this post