Oleh: Ahmad Sururi
Pengantar – Kota Serang, Antara Harapan dan Realita
Kota Serang sebagai ibu kota Provinsi Banten, menyimpan potensi besar terutama dalam sejarah, budaya, dan posisi strategisnya. Namun, di tengah geliat pertumbuhan kota-kota lain di Indonesia yang begitu pesat, Kota Serang yang beberapa hari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke 18 masih bergelut dengan persoalan-persoalan klasik seperti ketimpangan infrastruktur, tata ruang yang semrawut, kemiskinan serta minimnya pelayanan publik yang berkualitas (Pattiro Banten, 2023; Radar Banten, 2024).
Sebuah kota besar idealnya mampu memiliki tata ruang dan manajemen perkotaan strategis (Kusbiantoro, 1993). Akan tetapi hingga usia ke 18, wajah Kota Serang masih jauh dari kesan sebagai kota sebagai pusat pemerintahan ibukota provinsi yang modern dan humanis. Beberapa permasalahan serius seperti banyak jalan rusak, minimnya taman kota yang layak, drainase buruk hingga mengakibatkan banjir, transportasi publik dan fasilitas publik yang kurang terawat. Disisi lain Kota Serang seharusnya menjadi symbol dan kompas arah pembangunan Provinsi Banten dan bukan semata-mata hanya menjadi kota dengan representasi administrative provinsi.
Sebagai ibu kota Provinsi Banten, Kota Serang memiliki peran strategis dan diharapkan menjadi pusat ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan akan tetapi kota yang telah dipimpin oleh tiga walikota definitif yaitu H. Bunyamin (2008-2011), Tubagus Haerul Jaman (2011-2018) dan Syafrudin (2018-2023), hampir sebagian besar tidak ada kebijakan atau program yang benar-benar mampu mengatasi persoalan layanan dasar masyarakat, hambatan terbesar yang sering dikeluhkan yaitu minimnya ketersediaan anggaran sehingga mengakibatkan sebagian besar program tergantung dari dana bantuan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
Realitas data statistik menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Serang mencapai 73,99 atau sedikit di bawah IMP Provinsi Banten sebesar 74,48 dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Kota Serang mencapai 8,93 tahun atau di bawah Provinsi Banten sebesar 9,23 (BPS Pusat, 2025) sedangkan Harapan lama sekolah (HLS) berada di angka 12,83 atau di bawah Provinsi Banten sebesar 13.10 atau hanya unggul dari Kabupaten Lebak yang mencapai 12,11 (BPS Provinsi Banten, 2025) dan disisi lain persentase penduduk miskin di Kota Serang, data per 30 November 2024 tercatat 5,65 persen atau mengalami penurunan 0,55% dibandingkan tahun sebelumnya.
Deretan angka statistic di atas tentu bukan sesuatu yang menggembirakan dan membanggakan bagi sebuah kota yang telah didaulat menjadi ibukota Provinsi Banten sejak tahun 2007. Akan tetapi faktanya adalah Kota Serang masih tertinggal dengan kota-kota lain di Provinsi Banten.
Di Mana Posisi Kota Serang dan apa Potensinya?
Dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Provinsi Banten sangat terlihat kesenjangan yang kasat mata, kota yang seharusnya menjadi wajah dan etalase simbol kemajuan pembangunan daerah akan tetapi masih relatif tertinggal dalam beberapa aspek baik dari segi infrastruktur, pelayanan publik, maupun daya saing ekonomi. Kota Tangerang dan Tangerang Selatan misalnya adalah kota dengan symbol magnet investasi nasional, pembangunan pusat perbelanjaan modern, perkantoran, dan kawasan industri yang tumbuh pesat. Kota Cilegon, meski secara geografis lebih kecil, memiliki keunggulan infrastruktur industry dan pembangunan jalan untuk menopang aktivitas logistik pabrik-pabrik besar di kawasan industry yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal
Kota Serang sesungguhnya memikiki potensi dominan pada sektor informal dan perdagangan skala kecil, akan tetapi belum dapat memberikan dampak siginifikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Disisi lain meskipun memiliki beberapa kawasan industri, pertumbuhannya tidak sepesat Cilegon atau Tangerang dan hal ini diperburuk oleh iklim investasi yang terganjal birokrasi yang lamban.
Dari segi geografis, Kota Serang berada di lokasi strategis antara Jakarta dan Merak. Ini seharusnya menjadikan Serang sebagai simpul konektivitas ekonomi di barat Pulau Jawa. Selain itu terdapat akses ke jalan tol menuju Tangerang dan Jakarta, jalur kereta api, dan pelabuhan laut terdekat.
Secara historis, Serang dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Jawa melalui Kesultanan Banten. Jejak sejarah ini seharusnya menjadi kekuatan budaya dan pariwisata kota. Akan tetapi potensi pariwisata ini masih terfokus pada wisata religi Banten Lama dan belum menyentuh wisata lainnya secara merata.
Di sektor pendidikan, Serang memiliki beberapa universitas dan sekolah tinggi. Namun kualitas dan akses pendidikan masih perlu ditingkatkan agar sumber daya manusianya mampu bersaing dalam pasar kerja regional dan nasional.
Strategi Serang Menuju Kota Masa Depan
Kota Serang saat ini berada pada fase penting dalam transformasi tata kelola pemerintahan dan pembangunan. Kehadiran walikota periode 2025-2029 Budi Rustandi dan wakilnya Nur Agis tentunya diharapkan mampu memberikan energi positif.
Berbagai strategi kebijakan dan gagasan strategis telah dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan pelayanan publik, dan mempercepat investasi. Salah satu langkah progresif mereka adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi, yang dikomandoi Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan (DisKop UKM Perindag) Kota Serang, Wahyu Nurjamil.
Hal ini patut diapresiasi dan menunjukkan adanya keseriusan pemerintah Kota Serang dalam mempercepat pembangunan daerah, dan yang paling mendapatkan perhatian dari focus kebijakan Satuan Tugas (Satgas) ini adalah melakukan revitalisasi pusat kota dan relokasi pedagang informal yang tersebar di kawasan pasar lama, stadion maulana yusuf Ciceri dan rencananya akan menyasar Kawasan Royal dan Pasar Induk Rau, hal ini bertujuan agar kawasaan perkotaan menjadi lebih tertib dan nyaman.
Walikota Budi Rustandai dan wakilnya Nur Agis telah menekankan pentingnya akselerasi pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, drainase, dan sanitasi perkotaan melalui peningkatan anggaran dari APBD dan lobi ke pemerintah pusat. Hal ini dilandasi oleh realita bahwa masih banyak kelurahan dan kecamatan di Kota Serang yang kekurangan akses jalan layak dan fasilitas publik yang memadai.
Sebagai wujud visi modernisasi, transformasi pelayanan publik berbasis digital menjadi salah satu gagasan konkret seperti digitalisasi layanan perizinan usaha, pencatatan kependudukan, dan sistem pengaduan masyarakat. Pemerintah kota berkomitmen untuk memangkas birokrasi panjang dan membuka ruang lebih transparan bagi masyarakat dan dunia usaha.
Mendorong pertumbuhan UMKM dengan berbagai program pelatihan, bantuan permodalan, serta kerja sama dengan bank daerah dan lembaga keuangan mikro. Program ini diarahkan untuk mendorong pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga di Serang.
Berbagai strategi kebijakan tersebut dilakukan agar Kota Serang agar memiliki daya dukung, daya tarik dan daya saing yang sebanding atau bahkan melebihi kota-kota lainnya di Provinsi Banten.
Pendekatan Multi dan Partisipatif
Perjalanan Kota Serang menuju “Kota Masa Depan” sebagai symbol kemajuan pembangunan daerah sehingga membanggakan Provinsi Banten memerlukan jalan panjang dan tidak mudah, oleh sebab itu pendekatan yang multi-level, multi-aktor, dan berbasis data disertai dukungan partisipasi masyarakat menjadi sebuah keniscayaan.
Untuk mewujudkan Kota Serang Madani yang Maju Kotanya, Bahagia dan Sejahtera Warganya sesuai dengan visi walikota maka pendekatan cerdas dengan mengadopsi teknologi digital untuk pelayanan publik dan pengambilan keputusan inklusif untuk menjamin keterlibatan seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi, penguatan daya saing agar mampu menarik investasi untuk mendorong ekonomi local terutama sector jasa dan perdagangan serta wisata berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata ruang berjangka panjang.
Tidak ada kata terlambat bagi Kota Serang untuk menatar kembali infrastruktur dan tata kota ruang dengan zonasi yang jelas baik untuk perumahan, industri, perdagangan, ruang terbuka hijau, dan heritage.
Focus pada pembangunan infrastruktur yang smart terutama dalam mengatasi persoalan banjir, transportasi public berbasis regulasi dan pembangunan ruang publik produktif.
Selain itu penting untuk memberikan penguatan daya saing ekonomi local yang focus terhadap pengembangan kawasan industri ringan dan pusat UKM digital, sector-sektor unggulan seperti wisata religi dan sejarah Banten Lama, pertanian perkotaan dan perikanan darat. Hal ini didukung oleh strategi pada target lima prioritas yaitu pendidikan, infrastruktur, investasi, kemiskinan, dan digitalisasi dengan berbagai indicator makro dan mikro setiap tahunnya.
Penutup
Untuk visi jangka panjang, Kota Serang diarahkan menjadi kota pemerintahan yang rapi, bersih, dan layak huni. Kota Serang memiliki prasyarat untuk menjadi kota metropolitan yang modern namun tidak meninggalkan budaya dan kearifan lokal. Hal yang harus diingat dan menjadi catatan adalah bahwa pembangunan sebuah kota tidak bisa dilakukan secara sim salabim. Diperlukan pendekatan incremental (tambal sulam) dan kemauan berinovasi dengan orientasi dan visi jangka panjang, visi kepemimpinan yang kuat, dan partisipasi aktif dari masyarakat sipil.
Menjadikan Serang sebagai kota yang inklusif, hijau, berdaya saing, dan berbudaya layaknya ibukota Provinsi bukanlah mimpi yang mustahil. Asalkan semua pihak berkolaborasi dengan strategi perencanaan terukur dan konsisten. Tanpa kemauan inovasi, Kota Serang akan mengalami resiko dan selamanya berpotensi hanya menjadi ibu kota administratif dan tidak akan pernah menjadi fungsi jantung yang strategis.
Referensi
BPS Provinsi Banten. (2025). Harapan Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten (Tahun), 2024. Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. https://banten.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjAzIzI=/harapan-lama-sekolah-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-banten.html
BPS Pusat. (2025). [Metode Baru] Indeks Pembangunan Manusia, 2024. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDEzIzI=/-metode-baru–indeks-pembangunan-manusia.html
Kusbiantoro, B. (1993). Manajemen Perkotaan Indonesia. Journal of Regional and City Planning, 4(9). https://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/5752
Pattiro Banten. (2023, August 11). Tantangan Pembangunan Kota Serang. Pattiro Banten. https://pattirobanten.or.id/tantangan-pembangunan-kota-serang/
Radar Banten. (2024). Warga Miskin Naik Jadi 44.990 Jiwa, Dewan Kota Serang : Anggaran Alihkan ke Penanganan Kemiskinan. Radar Banten Online2. https://www.radarbanten.co.id/2024/10/01/warga-miskin-naik-jadi-44-990-jiwa-dewan-kota-serang-anggaran-alihkan-ke-penanganan-kemiskinan/




Discussion about this post