SERANG, BANPOS – Desa Lebakwana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang merupakan, salah satu dari tiga desa di Indonesia yang terpilih menjadi lokasi percontohan pelaksanaan program Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM).
Adapun dua desa lainnya yang terpilih yakni Desa Ciangsana, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; dan Desa Purwoharjo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di Banten program SBM difasilitasi oleh Sub Recipient (SR) Penabulu STPI Banten.
SBM sendiri merupakan program yang digagas oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT); dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam rangka untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.
Program Monitoring Evaluating and Learning (PMEL) Koordinator SR Banten, Tb Deni Faisal Hasyim, menerangkan bahwa program ini lebih menekankan pada pendeteksian dini wabah penyakit sehingga dapat diminimalisir penyebarannya.
Dan salah satu wabah penyakit yang diwaspadai penyebarannya adalah Tuberkulosis (TBC).
“Dari 27 jenis penyakit salah satunya TBC. Ini adalah objek mereka dalam pendeteksian dini di Lebakwana, gunanya ya kembali ke mereka untuk meningkatkan kesejahteraan melalui kesehatan warga,” terangnya pada Rabu (13/8).
Deni menjelaskan dalam pelaksanaannya, program tersebut turut melibatkan partisipasi semua pihak yang ada di desa. Mulai dari RT, RW, kader posyandu, hingga kepala desa.
Mereka nantinya akan turut dilibatkan dalam upaya pencegahan penyebaran wabah penyakit menular di lingkungan tempat tinggalnya.
“Edukasi pasti terhadap warga, deteksi dini juga iya. Jadi mendeteksi seperti mereka melakukan survei awal sebelum terjadinya wabah,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Puskesmas Kramatwatu, Fenny Sunarsih, menyampaikan sampai dengan saat ini jumlah pengidap TBC di Kecamatan Kramatwatu tercatat ada sebanyak 128 orang.
Dari jumlah tersebut, 32 orang di antaranya berasal dari Desa Lebakwana.
Kemudian dia menjelaskan, wabah TBC bisa dikenali dari beberapa indikasi. Salah satunya adalah pasien menderita batuk berkepanjangan dengan disertai penurunan berat badan yang drastis.
Jika hal itu terjadi dia menyarankan untuk membawa pasien tersebut ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk dapat segera ditangani.
“Misalnya berat badannya menurun drastis kemudian batu dua minggu berturut-turut tidak ada perbaikan. Kemudian ada kelenjar dan sebagainya,” terangnya.
Melihat kasusnya cukup tinggi, Fenny mengajak kepada semua pihak untuk dapat menjaga pola hidup bersih dan sehat. Agar penyebaran wabah penyakit tersebut tidak terjadi. (*)



Discussion about this post