JAKARTA, BANPOS – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia baru saja menggelar retreat 3 hari di Akademi Militer, Magelang, Jawa Tengah, tanggal 8-10 Agustus 2025. Usai ikut retreat, Kadin merasa pengusaha sudah senapas dengan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu diungkap Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri Saleh Husin saat menjadi narasumber di Podcast Ngegas yang dipandu wartawan senior Siswanto di Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Mengawali perbincangannya, Mantan Menteri Perindustrian ini bercerita mengenai retreat Kadin. Menurutnya, ratusan pengusaha yang tergabung dalam Kadin mendapat hikmah dari kegiatan ini.
Selama di Lembah Tidar, pengusaha dengan berbagai latar belakangnya harus hidup bersama dalam kedisiplinan. “Paling tidak, masuk dalam dunia yang teratur, taat, waktunya sudah tertata semua dengan kegiatan yang padat,” tutur Saleh.
Selain itu, pengusaha juga digembleng dengan sejumlah materi yang diberikan oleh para pembicara. Di antaranya tentang kebangsaan, ketahanan, dan kepentingan nasional lainnya.
Saleh merasa dengan kegiatan dan materi yang didapat, pengusaha tak lagi mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok. Sehingga, bisnis yang dijalankan semata-mata untuk kepentingan nasional.
“Di samping itu, yang paling utama adalah kebersamaan, kekompakan. Dalam bahasa militer, kami ditanamkan jiwa korsa,” ungkap Managing Director Sinarmas.
Menariknya, sebelum berangkat ke Magelang, pengusaha Kadin diberi pembekalan oleh Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ada kalimat dari Prabowo yang membuat Saleh terngiang-ngiang.
“Beberapa kali Presiden mengucapkan, saya ingat betul, ada beberapa kalimat yang diulang-ulang terus. Yakni, Indonesia Incorporated. Saya pikir itu cukup bagus,” kenang Saleh.
Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika masih menjadi Menperin. Saat itu, Saleh melakukan kunjungan kerja ke Negeri Sakura, dan bertemu Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI) atau semacam Kadinnya Jepang
Saleh juga bertemu dengan sejumlah menteri Jepang dan pelaku industri. Dia heran, setiap orang yang ditemui di Negeri Samurai selalu membicarakan kepentingan nasional, bukan terkait salah satu bisnis.
“Itulah yang dinamakan Japan Incorporated. Itu pun yang kemarin saya lihat saat pembekalan. Pak Presiden menginginkan seperti itu,” kata Saleh, menerjemahkan omongan Prabowo.
Dia merasa, Presiden ingin pengusaha nasional lebih mementingkan Indonesia dibandingkan kepentingan pribadinya. Konkretnya, ketika melakukan ekspor, tentu yang dikenal sebagai produk Indonesia, bukan salah satu perusahaan.
“Lebih dari lima kali saya ingat. Presiden menyebut: saya ingin betul-betul ada Indonesia Incorporated. Bagus juga, mudah-mudahan dari ucapan itu diikuti dengan tindakan,” harap Saleh.
Pasalnya, Saleh mengakui, masing-masing kementerian/lembaga memiliki ego sektoral. Terkadang, karena mementingkan ego, imbasnya justru merugikan pelaku usaha.
“Bagaimana meningkatkan daya saing industri, kalau kebutuhan utama pelaku usaha susah didapat karena perbedaan aturan dari pemangku kepentingan,” ungkap mantan anggota DPR ini.
Saleh menilai, dengan retreat kemarin, ada forum untuk menyatukan visi pengusaha dengan Pemerintah.
“Jadi tidak sekadar jadi pengusaha, tapi menjadi pengusaha pejuang. Artinya, betul-betul untuk kepentingan bangsa, bersaing dengan pasar global,” jawab pengusaha kelahiran Rote 61 tahun silam ini.
Terlebih, Saleh mengakui, saat ini ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Sehingga, pengusaha dan Pemerintah harus saling bahu-membahu, dan bersatu padu untuk bisa memenangkan persaingan global.
“Kita harus memperkuat diri. Terutama, memperkuat industri di dalam negeri. Dengan begitu produk kita mempunyai daya saing yang kuat hingga bisa bersaing di pasar global,” pungkasnya. (RM.ID)

Discussion about this post