JAKARTA, BANPOS – Anggota DPR sekaligus dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mendukung penuh sikap tegas Presiden Prabowo Subianto untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga tetes darah penghabisan. Kata dia, pernyataan Presiden Prabowo yang menyebut “daripada dijajah kembali, lebih baik mati” saat Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Batujajar, Minggu (10/8/2025), adalah pesan moral yang relevan di tengah derasnya arus globalisasi.
Bamsoet, sapaan akrab Bambang, menerangkan, di era globalisasi, ancaman dapat masuk melalui teknologi, informasi, bahkan ekonomi. Karenanya, semangat juang mempertahankan kemerdekaan harus menjadi bagian dari pendidikan karakter bangsa sejak dini.
Data Global Firepower Index 2025 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dalam kekuatan militer. Namun, peringkat ini tidak boleh membuat bangsa Indonesia lengah. Perlu kesiapan mental dan partisipasi rakyat sebagai kekuatan pertahanan semesta. Konsep pertahanan rakyat semesta, yaitu kekuatan militer formal diperkuat oleh kesiapsiagaan seluruh warga, merupakan suatu keharusan di tengah dinamika keamanan global.
“Kita harus membangun mentalitas pertahanan yang menyeluruh, dengan setiap warga menjadi bagian dari benteng NKRI. Sejarah menunjukkan, bangsa yang siap bertahan di setiap jengkal wilayahnya adalah bangsa yang tidak akan mudah ditaklukkan,” ujar Bamsoet, di Jakarta, Senin (11/8/2025).
Kakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menjelaskan, komitmen yang disampaikan Presiden Prabowo mencerminkan kesadaran strategis bahwa kekuatan pertahanan nasional tidak boleh hanya terpusat di titik-titik perbatasan, tetapi harus menyatu dalam denyut kehidupan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Karenanya, program bela negara yang sudah dijalankan Kementerian Pertahanan dan program pertahanan teritorial TNI sebagai pondasi yang perlu diperluas hingga ke tingkat desa.
Dia menambahkan, mempertahankan kedaulatan NKRI merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa. Dalam melakukannya, bukan hanya bicara soal senjata, tank ataupun pesawat tempur. “Kita bicara tentang kesadaran nasional, kesiapan mental, solidaritas sosial, dan cinta Tanah Air. Seperti disampaikan Presiden, kalau seluruh bangsa ini kompak mempertahankan setiap jengkal tanahnya, maka Indonesia akan tetap tegak selama-lamanya.” tegas Bamsoet.
Ketua DPR ke-20 dan Ketua MPR ke-15 ini mencontohkan, situasi geopolitik di Asia Pasifik saat ini sedang berada pada titik sensitif. Sengketa Laut China Selatan, eskalasi ketegangan di Selat Taiwan, dan perkembangan teknologi militer negara-negara besar seperti hipersonik dan drone tempur, memberi pelajaran bahwa ancaman bisa datang secara tiba-tiba dan tidak selalu dalam bentuk konvensional.
Dia menegaskan, desa-desa harus menjadi basis pertahanan rakyat, sebagaimana ditekankan Presiden Prabowo. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat, sekitar 43,7 persen penduduk Indonesia tinggal di wilayah pedesaan. “Perlu ditanamkan, desa bukan hanya lumbung pangan, tetapi juga lumbung patriotisme. Kalau setiap desa siap, maka kedaulatan NKRI akan sulit sekali ditembus,” pungkas Bamsoet. (RM.ID)

Discussion about this post