SERANG, BANPOS – PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia), sebagai salah satu pemimpin industri penyedia produk dan solusi kemasan aseptik berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, secara resmi telah beropresi secara komersil.
Pabrik ini tidak hanya akan menjadi ekspansi pertama dari LamiPak Group, tetapi juga menjadi pabrik kemasan aseptik pertama (kertas Laminasi) di Indonesia, yang telah memproduksi kemasan tersebut secara ‘end to end’ proses.
Menteri Koordinator Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, beserta jajaran Kementerian dan Lembaga, Pimpinan Kepala Daerah serta asosiasi terkait kemasan turut hadir meresmikan investasi tahap ke-2 LamiPak Indonesia pada Jumat (1/8) di Cikande, Kabupaten Serang.
Investasi tahap ke-2 ini ditandai dengan pemasangan line produksi baru, sehingga total kapasistas semula 12 miliar kemasan per tahun, kini menjadi 21 miliar kemasan per tahun.
Country Managing Director LamiPak Indonesia, Anton Hui, mengatakan bahwa pabrik kemasan aseptik itu dibangun di atas lahan seluas 16,2 hektare dengan luas bangunan lebih dari 55 ribu meter persegi.
“Terletak di Cikande, pabrik ini akan dilengkapi dengan mesin berkelas dunia yang sejalan dengan standar Industri 4.0, sehingga menjadikannya pabrik yang paling canggih yang pernah dibangun oleh LamiPak. Kini LamiPak Indonesia telah mampu memproduksi kemasan aseptik sebanyak 21 miliar kemasan per tahun. ” ujarnya.
Produk kemasan aseptik merupakan kemasan minuman yang diproses dan dikemas dengan teknik aseptik, yang menjaga kesterilan dan kualitas produk tanpa perlu pendinginan atau bahan pengawet tambahan.
Dengan teknologi pengawetan ini memungkinkan minuman, seperti susu segar, susu UHT, yogurt, susu kedelai, minuman jus buah, minuman teh, kopi berperasa dan lain-lain tetap segar lebih lama tanpa risiko basi atau terkontaminasi mikroba.
Meskipun produk kemasan aseptik berlangsung impor selama lebih dari 50 tahun, Industri kemasan aseptik di Indonesia menurut data terlihat terus meningkat, dari Rp87,6 triliun pada 2022 menjadi Rp93,2 triliun di 2023 dan mencapai lebih dari Rp100 triliun pada akhir 2024.
Pasar industri kemasan aseptik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, terutama dengan meningkatnya permintaan akan kemasan ramah lingkungan dan teknologi pengemasan modern.
Diperkirakan pasar kemasan aseptik akan tumbuh 24 persen dalam lima tahun ke depan, dan di Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat.
Sebelumnya, pabrik kemasan aseptik Lami Packaging Indonesia mulai berproduksi secara komersil pada tahun 2024 dengan kapasitas produksinya sebanyak 12 miliar kemasan per tahun, dimana akan mencukupi seluruh kebutuhan industri makanan dan minuman di Indonesia.
Pabrik berteknologi tinggi ini merupakan pabrik kemasan aseptik yang pertama dengan lokasi produksi di Indonesia yang menyerap tenaga kerja sebanyak 450 orang. Selain memproduksi kemasan aseptik, perusahaan juga memproduksi sedotan kertas sebagai produk pelengkap.
Dengan investasi fasilitas kemasan aseptik dalam negeri ini, LamiPak Indonesia siap mendukung kebutuhan produk susu kemasan yang sehat, higenis dan ramah lingkungan yang saat ini berjalan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
LamiPak telah memiliki berbagai macam tipe produk, yang dapat dipasok dalam bentuk rol dan sleeve, seperti Brick Base, Pillow, Triangle.
Dengan mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan yakni Lamipure, yang aluminum-free (tanpa laminasi dengan aluminium foil) dan juga sedotan dari kertas (paper straws). Kemasan yang ramah lingkungan ini dapat mengurangi emisi karbon sampai 28 persen (Carbon footprint kg CO2 eq per Liter). (*)





Discussion about this post