CILEGON, BANPOS – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon memastikan seluruh peralatan pengolahan sampah di Pabrik Bahan Bakar jumputan Padat (BBJP) yang merupakan hibah dari PLN Indonesia Power UBP Suralaya akan diganti.
Kepala DLH Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, mengungkapkan bahwa penggantian dilakukan karena peralatan hibah senilai Rp10 miliar tersebut dinilai tidak cukup mumpuni untuk mendukung proses pengolahan sampah secara maksimal.
“Alat yang diserahkan Indonesia Power itu bagian dari hibah Rp10 miliar, tapi memang kondisinya kurang mumpuni, karena yang diolah kan sampah,” kata Sabri saat ditemui pada Rabu (30/7).
Alih-alih memperbaiki alat yang ada, DLH akan langsung menggantinya melalu kerja sama dengan PT Green Eco Teknologi. Perusahaan tersebut sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Pemkot Cilegon.
“Green Eco yang sudah MoU dengan kita. Salah satu objeknya adalah memodifikasi alat di BBJP, termasuk mengubah bangunan. Alatnya akan lebih canggih dari sebelumnya, bahkan lebih baik dari bantuan World Bank,” jelas Sabri.
la menegaskan bahwa penggantian peralatan bukan karena alasan efisiensi, melainkan bagian dari rencana menyeluruh untuk melakukan pembaruan sistem pengolahan sampah.
“Bukan soal efisiensi, tapi memang ada rencana untuk mengganti semua alatnya. Karena itu, anggaran juga akan kita sesuaikan,” katanya.
Saat disinggung soal nilai komersial dari produksi BBJP, Sabri menjelaskan bahwa belum ada perhitungan pasti secara bulanan karena volume produksi masih kecil dan proses pengangkutan belum berjalan secara konsisten.
“Kita tidak hitung per bulan, karena sistemnya kontrak dengan pihak ketiga. Produksinya belum besar, jadi pengangkutan juga belum konsisten,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa sejak 2023 BBJP sebenarnya sudah menghasilkan pendapatan. Namun, pendapatan tersebut tidak tercatat sebagai retribusi daerah.
“Sejak 2023 sebenarnya sudah ada pendapatan, tapi tidak masuk retribusi, melainkan tercatat sebagai pendapatan lain-lain. Kalau alat rusak, produksinya ikut berkurang,” ungkap Sabri.
Dalam kerja sama terbaru dengan pihak dari Korea, DLH memastikan akan dilakukan uji coba terlebih dahulu sebelum alat dioperasikan secara penuh.
Uji coba ini akan menyesuaikan dengan standar kalori yang dibutuhkan oleh Indonesia Power sebagai pihak pembeli bahan bakar sampah.
“Sebelum argo jalan, harus ada uji coba. Produksi harus sesuai standar kalori untuk dijual ke Indonesia Power. Target produksinya 80 ton, dan kalau itu tercapai, baru bisa dikatakan clear,” jelasnya.
Sabri juga menegaskan bahwa seluruh hasil produksi BBJP menjadi hak milik DLH.
“Dalam produksi ini, hasilnya sepenuhnya milik DLH. Kalau alatnya sudah jalan, nanti kita akan anggarkan untuk operasional produksinya. Mereka (Green Eco) hanya memberikan alat,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah mesin pengolahan sampah di Pabrik Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) Plant Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kota Cilegon, mengalami kerusakan.
Mesin-mesin tersebut rusak lantaran belum pernah mendapatkan perawatan sejak mulai beroperasi. Diketahui, seluruh mesin tersebut merupakan hibah dari PLN Indonesia Power UBP Suralaya.
Pantauan BANPOS di lokasi pada Jumat (25/7), sejumlah petugas tampak sibuk menyiapkan material organik untuk diolah. Sebagian lainnya terlihat mencacah bahan BBJP hasil produksi.
Di tengah area pabrik, tampak tiga mesin screening tidak dioperasikan.
Salah satu pekerja BBJP Plant, Baihaki, mengungkapkan bahwa satu mesin screening telah mengalami kerusakan sejak tiga bulan terakhir.
“Rusak mungkin karena faktor usia dan belum pernah diperbaiki sejak awal beroperasi,” ujarnya. (*)



Discussion about this post