CILEGON, BANPOS – Sejumlah mesin pengolahan sampah di Pabrik Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) Plant Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung, Kota Cilegon mengalami kerusakan.
Mesin-mesin tersebut rusak lantaran belum pernah mendapatkan perawatan sejak mulai beroperasi. Diketahui, seluruh mesin tersebut merupakan hibah dari PLN Indonesia Power UBP Suralaya.
Pantauan BANPOS di lokasi pada Jumat (25/7), sejumlah petugas tampak sibuk menyiapkan material organik untuk diolah. Sebagian lainnya terlihat mencacah bahan BBJP hasil produksi. Di tengah area pabrik, tampak tiga mesin screening tidak beroperasi.
Salah satu pekerja BBJP Plant, Baihaki mengungkapkan bahwa satu mesin mesin screening telah mengalami kerusakan sejak tiga bulan terakhir.
“Rusak mungkin karena faktor usia dan belum pernah diperbaiki sejak awal beroperasi,” ujarnya.
Akibat kerusakan itu, pengolahan sampah menjadi tidak maksimal dan berdampak pada penurunan produksi BBJP.
“Nggak maksimal sih, kan hasil jadi berkurang,” ucapnya.
Menurut Baihaki, pabrik menargetkan produksi BBJP sebanyak 10 ton per hari, terdiri dari 8 ton hasil mesin screening dan 2 ton dari pencacah halus. Namun dengan kerusakan pada salah satu mesin utama, target tersebut sulit tercapai.
“Kalau materialnya kering, mesin kompos dan dua mesin pencacah ini maksimal bisa hasilkan 4 ton sehari. Idealnya bisa 10 ton kalau semua alat berfungsi,” terangnya.
Ia mengatakan, kerusakan tersebut telah dilaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, dan dalam waktu dekat pihaknya akan kembali mengajukan laporan lanjutan.
“Sudah dilaporkan ke Pemkot. Rencananya akhir bulan ini kita ajukan laporan lagi ke DLH,” katanya.
Kepala UPT TPSA Bagendung, Bagus Ardanto membenarkan adanya kerusakan pada sejumlah mesin di pabrik BBJP.
“Ada dua atau tiga mesin yang rusak. Mesin pencacah ada yang rusak, mesin kompos juga. Hampir semua mesin bermasalah di fanbelt dan pisaunya,” ujar Bagus.
Menurut Bagus, laporan kerusakan telah diajukan ke DLH Cilegon sejak April lalu. Namun, proses perbaikan terhambat karena adanya kebijakan efisiensi anggaran.
“Kalau dari sisi kewenangan kita, anggaran pemeliharaan memang ada. Tapi karena ada efisiensi, jadi belum bisa dilakukan perbaikan,” katanya.
Ia mengaku, kerusakan mesin berdampak langsung pada menurunnya kapasitas produksi BBJP. Namun demikian, ia optimistis perbaikan bisa dilakukan setelah APBD Perubahan 2025 disahkan.
“Rencananya pertengahan Agustus akan mulai diperbaiki. Sekarang proses penyusunan ABT sudah selesai dan anggaran sudah dibuka,” tandasnya. (*)



Discussion about this post