CILEGON, BANPOS – Rencana pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di Kelurahan Bagendung, Kota Cilegon, melalui skema pendanaan World Bank senilai Rp100 miliar dipastikan batal.
Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon kini tengah menjajaki kerja sama dengan investor asal Korea Selatan sebagai alternatif dalam penanganan sampah.
Sebelumnya, Pemkot Cilegon telah merencanakan pembangunan TPST di atas lahan seluas 1 hektare dengan dukungan dana dari World Bank.
Rencana ini sempat ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya di ruang rapat Wali Kota Cilegon, Rabu 21 Februari 2024.
Namun, rencana tersebut tidak dapat dilanjutkan lantaran pemerintah pusat membatalkan dukungan pendanaan dari World Bank.
“Program World Bank Rp100 miliar itu kan di-cancel, nggak jadi, ditarik oleh kementerian,” ujar Walikota Cilegon, Robinsar saat ditemui di Pemkot Cilegon, Senin (28/7).
Robinsar mengakui bahwa sejak awal TPST Bagendung sudah menghadapi sejumlah kendala, baik dari sisi manajemen maupun keterbatasan fasilitas.
“Sejak awal saya lihat ke Bagendung itu memang kondisinya tidak maksimal. Sampah dari BBJP tidak tertangani dengan baik, peralatan kurang, tenaga kerja juga belum maksimal,” jelasnya.
Menanggapi situasi tersebut, Pemkot Cilegon bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera mencari solusi alternatif yang lebih realistis.
Salah satu opsi kini dikembangkan adalah kerja sama dengan investor asal Korea Selatan yang menawarkan teknologi pengolahan sampah modern.
“Makanya kita sudah diskusi dengan DLH, dan jalin kerja sama dengan investor Korea untuk mengelola sampah Bagendung. Mesin mereka mampu mengolah hingga 170 ton sampah per hari, memilah sampah sebelum diproses dan dikirim ke Indonesia Power. Harapannya, awal tahun depan sudah bisa beroperasi,” ungkap Robinsar.
Ia menegaskan bahwa kerja sama ini lebih difokuskan pada upaya penanganan sampah secara berkelanjutan, bukan pada keuntungan semata.
“Yang nanti diolah itu sampah organik dan non organik. Poin utamanya bukan profit, tapi bagaimana pengelolaan bisa mengurangi sampah yang menumpuk,” katanya.
Teknologi yang akan digunakan seluruhnya didatangkan dari Korea, dengan sistem kerja sama yang bersifat kolaboratif. Sementara itu, peralatan yang saat ini tersedia akan tetapi dimanfaatkan selama masa transisi.
“Itu teknologi baru, alat-alatnya dari Korea semua. Yang sekarang ada, kita perbaiki dan maksimalkan dulu,” ujarnya.
Robinsar menambahkan, pola kerja sama ini akan mengedepankan prinsip saling mendukung dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang modern dan efisien.
“Dengan Korea ini nanti sistemnya kerja sama, bareng-bareng hasilkan pengelolaan sampah yang baik,” tandasnya. (*)



Discussion about this post