SERANG, BANPOS – Sebuah akun anonim di Instagram membeberkan dugaan sisi gelap di SMA Negeri 4 Kota Serang. Akun tersebut yakni @savesmanfourkotser.
Akun tersebut membeberkan 7 persoalan serius yang disebut terjadi di SMA Negeri 4 Kota Serang, mulai dari kasus pelecehan seksual, hingga intoleransi.
Sejak beberapa pekan yang lalu, akun tersebut bergerak dengan mengampanyekan tagar #SaveSMANFour di media sosial.
Pada salah satu unggahan terbarunya, mereka membeberkan 7 persoalan serius yang terjadi di sana.
Unggahan tersebut dibuka dengan tampilan seorang siswi dengan mulut disegel lakban merah, simbol kuat atas dugaan budaya bungkam di sekolah tersebut.
Berikut 7 persoalan serius yang disebut terjadi di sekolah itu:
1. Dugaan Pelecehan Seksual oleh Oknum Guru
Disebutkan bahwa ada seorang guru yang dilaporkan telah melakukan pelecehan seksual kepada siswa lintas angkatan, mulai dari alumni hingga siswa aktif kelas 10.
Namun, pihak sekolah disebut tidak mengambil tindakan tegas. Saat siswa melapor, mereka malah diduga dibungkam dengan kalimat, “Sudah ya, dimaafkan saja, jangan bilang orang tua.”
2. Ekskul Dibiarkan Mati Tanpa Dana
Sebagian besar kegiatan ekstrakurikuler di SMA 4 disebut tidak mendapat pendanaan yang layak.
Permintaan dukungan dana dari siswa disebut malah dibalas dengan ucapan yang dinilai bernada merendahkan: “Kalau miskin jangan banyak gaya”.
Kegiatan disebut tetap berjalan tanpa dukungan alat atau biaya yang memadai, sehingga siswa merasa hanya dijadikan alat pencitraan sekolah.
3. Guru Honorer Dieksploitasi dan Tidak Dicatat
Beberapa guru honorer yang sudah mengabdi sejak 2021 mengaku tidak pernah diusulkan untuk menjadi ASN atau PPPK karena datanya tidak dicantumkan oleh sekolah.
Mereka merasa hanya dimanfaatkan dan kemudian dibuang diam-diam.
4. Dugaan Pungutan Liar dan Bisnis Internal Sekolah
Siswa diwajibkan membeli LKS (Lembar Kerja Siswa), seragam, dan buku Ramadan dengan harga tinggi tanpa kwitansi resmi.
Harga LKS dan seragam disebut mencapai jutaan rupiah, sementara buku Ramadan dijual dengan harga tiga kali lipat dari harga pasaran.
Mereka nenuding tidak ada transparansi dana atau laporan keuangan terbuka.
5. Tekanan dan Budaya Diam
Siswa yang aktif di OSIS/MPK dan mencoba menyuarakan persoalan di sekolah disebut sering mendapat tekanan.
Bahkan siswa yang sekadar membagikan ulang konten di media sosial disebut terancam dipanggil dan diintimidasi.
Budaya tutup mulut ini disebut telah mengakar di kalangan siswa, guru, dan alumni.
6. Intoleransi Beragama
Ketika OSIS memposting ucapan peringatan hari besar umat Kristen (kenaikan Isa Al-Masih), pihak sekolah disebut memaksa agar unggahan itu dihapus.
Hal ini dianggap sebagai bentuk intoleransi terhadap keyakinan di luar mayoritas dan dinilai bertentangan dengan nilai dasar pendidikan.
7. Kondisi Kelas Tidak Layak
Jumlah siswa di tiap kelas disebut melebihi 50 orang tanpa dukungan kipas atau ventilasi yang memadai.
Ruangan menjadi panas dan tidak nyaman untuk belajar. Disebutkan bahwa ketika siswa menyuarakan keluhan, justru mendapat tekanan, bukan solusi.
Sampai berita ini diterbitkan, BANPOS masih berupaya untuk meminta komentar kepada pihak sekolah. (*)
https://banpos.co/2025/07/06/viral-dugaan-sisi-gelap-sman-4-kota-serang-mantan-kepsek-buka-suara/





Discussion about this post