CILEGON, BANPOS – Lokasi kegiatan flaring yang dilakukan oleh PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, ditandai sebagai kebakaran oleh National Aeronautics and Space Administration (NASA).
NASA merupakan lembaga negara di Amerika Serikat, yang bertugas dalam bidang penelitian, pengembangan, kajian, dan penerapan teknologi penerbangan dan antariksa.
Berdasarkan situs IQAIr, lokasi tempat kegiatan flaring PT LCI ditandai dengan ikon api. Hal itu menandakan bahwa kegiatan flaring dianggap sebagai kebakaran.
IQAir menuliskan bahwa mereka mendapatkan data tersebut dari NASA. Informasi besaran api di lokasi PT LCI masuk kategori rendah, dengan lebar permukaan diperkirakan 0,9 km persegi.
Sementara untuk kualitas udara, berdasarkan data pada stasiun Kementerian Lingkungan Hidup, kualitas udara di sekitar PT LCI masuk kategori sedang. Sejak awal mula flaring dilakukan, terjadi peningkatan tingkat polutan PM2.5 di sana.
Untuk diketahui, berdasarkan penjelasan situs IQAir, PM2.5 merupakan partikel yang mengambang di udara dengan ukuran diameter 2,5 mikrometer atau kurang.
Ukuran PM2.5 sangat kecil sehingga dapat diserap ke dalam aliran darah saat bernapas. Karena alasan ini, biasanya polutan ini menimbulkan ancaman kesehatan terbesar.
Sumber PM2.5 dapat berasal dari sumber buatan manusia, sumber daya alam atau diciptakan oleh polutan lainnya, di antaranya pembakaran yang dihasilkan dari pembangkit listrik, asap dan jelaga dari kebakaran hutan dan limbah pembakaran, emisi kendaraan dan pembakaran dari motor, dan proses industri yang melibatkan reaksi kimia antara gas (sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan senyawa organik yang mudah menguap).
Pada tanggal 20 Mei, tingkat PM2.5 berada di angka 25.2 µg/m³, yang sebelumnya berada di angka 21.3 µg/m³. Tingkat PM2.5 kembali meningkat pada tanggal 21 Mei, hingga mencapai angka 28.2 µg/m³.
Setelahnya, tingkat PM2.5 mengalami penurunan secara bertahap. Pada 28 Mei 2025, tingkat polutan PM2.5 berada di angka 12.1µg/m³.
Namun, prakiraan dalam sepekan ke depan cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, diperkirakan terjadi peningkatan polutan keseluruhan di wilayah tersebut.

Terparah diperkirakan terjadi pada Jumat 30 Mei 2025, yang diprediksi tingkat polutan berdasarkan AQI+ (Indeks Kualitas Udara) berada di angka 125.
Sebagai pembanding, AQI+ pada tanggal 21 Mei yang merupakan hari dengan PM2.5 tertinggi semenjak flaring PT LCI dilakukan, berada pada nilai 87.
Dengan PM2.5 sebagai polutan utama, maka dengan nilai AQI+ pada Jumat 30 Mei 2025 yang mencapai 125, PM2.5 pun akan meningkat tajam.
Kondisi AQI+ di angka 125 sangat tidak sehat bagi kelompok sensitif. Masyarakat pun dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menutup jendela rumah. (DZH)



Discussion about this post