SERANG, BANPOS – Dalam rangka menyukseskan program Presiden Prabowo di bidang ketahanan pangan, jajaran Korem 064/Maulana Yusuf Serang menerima audiensi dengan Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang.
Bertempat di ruang Komandan Komando Resort Militer 064/Maulana Yusuf, Kota Serang, Kamis (27/3) siang rombongan, Kasepuhan Cisungsang yang dipimpin oleh Abah Usep, diterima oleh Brigadir Jenderal, Adrian Susanto.
Pada kesempatan tersebut turut serta hadir Sekretaris Kasepuhan Cisungsang, Henriana Hatra Wijaya; Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Asep Mulya Hidayat dan Akademisi Untirta, Yoki Yusanto, serta C.E.O Sultan Centre Bahroji.
Brigjen Adrian mengungkapkan kebahagiannya bahwa untuk pertama kalinya bertemu dengan Abah Usep.
“Ini pertama kalinya saya bertemu dengan Abah Usep sebagai Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang. Semoga silaturahmi ini dapat menjadi awal pelaksanaan berbagai program kegiatan Korem 064/Maulana Yusuf di Masyarakat Adat, terutama Kasepuhan Cisungsang,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang yang kaya akan budaya dan penduduknya yang bermata pencaharian bidang pertanian, dapat bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia, misalnya dalam hal pembangunan Irigasi.
Abah Usep sebagai Ketua Adat, menyampaikan kondisi Pertanian di Kasepuhan Cisungsang kepada Jajaran Korem 064/Maulana Yusuf, mengenai masalah insfrastruktur pertanian yang kini luasnya mencapai 5.000 hektare.
“Pak Jenderal, seratus persen masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang adalah petani, namun kini ada masalah utama yakni irigasi yang dibangun tahun 1989, yang kondisinya sudah menghawatirkan karena rusak terdampak longsor dari perbukitan,” katanya.
Menurut Abah, kini hanya 30 persen saja irigasi di Kasepuhan Cisungsang yang masih dapat mengaliri lahan pertanian. Dibutuhkan pembangunan secara komprehensif, agar air dari sungai Cikidang yang cukup melimpah dapat dimanfaatkan.
“Untuk air sungai Cikidang sangat bagus, bahkan pada saat musim Kemarau masih mengalir airnya,” ungkapnya.
Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Wilayah Banten, Asep Mulya Hidayat, dalam kesempatan tersebut menyampaikan tentang Program Utama Ketahanan Pangan yang diprogramkan pemerintah pusat.
Dalam program tersebut ditegaskan bahwa irigasi menjadi hal paling penting dalam proses produksi pertanian. Untuk itu, harus segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah Provinsi Banten dan juga Pemerintah Pusat.
“Salah satu aspek dalam ketahanan pangan adalah ketersediaan melalui produksi, peningkatan produksi bisa dilakukan melalui eksetensifikasi dan intensifikasi. Air merupakan faktor penting dalam rangka peningkatan produksi melalui intensifikasi, apalagi air langsung dari hulu sungai yang belum terkontaminasi,” ucapnya.
“Maka daripada masif melalui ekstensifikasi dengan membuka lahan baru, maka jika bisa dioptimalkan melalui intensifikasi, revitalisaai saluran irigasi adalah keniscayaan untuk peningkatan produksi,” lanjut pendiri Hajirocker Foundation tersebut.
Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang, Henriana, menyampaikan bahwa Kasepuhan Cisungsang pun kini telah menerima Penetapan Hutan Adat dari Pemerintahan Era Presiden Joko Widodo, melalui Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Hutan Adat yang dikelola mencapai 1.599 Hektar, dan sudah dikembalikan kepada masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang, dan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dan konservasi,” ujar Guru SMP 2 Bayah tersebut.
Sedangkan C.E.O Sultan Centre, Bahroji, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan survei lokasi irigasi yang menurutnya sudah sangat menghawatirkan.
“Kami telah melakukan pemotretan udara dan survei melalui drone di Kasepuhan Cisungsang, serta mengumpulkan data-data kerusakan irigasi, untuk itu pembangunan irigasi di Kasepuhan Cisungsang, sangat mendesak, irigasi tersebut usianya hampir 40 tahun,” tandasnya. (DZH)



Discussion about this post